Friday, March 16, 2012

Soal Hukum dan Hukum Ekonomi

  1. “Hukum harus ditentukan menurut 2 asas, ialah asas keadilan dan faedah.” Adalah pengertian hukum menurut...
a.       Mr. J.H.P. Bellefroid (*)
b.      Jeremy Bentham
c.       Aristoteles
d.      Apeldoorn
  1. Algraa membagi sumber hukum menjadi dua, yaitu...
a.       Hukum adat dan hukum negara
b.      Hukum materiil dan hukum formil (*)
c.       Hukum dunia dan hukum akhirat
d.      Hukum Formil dan hukum non formil
  1. Menurut Edward Jenk, terdapat 3 jenis sumber hukum atau yang biasa disebut “Forms Of Law”, antara lain :
a.       Statutory
b.      Judiviary
c.       Liberty (*)
d.      Literaty
  1. Berikut ini adalah contoh jenis dan macam norma, kecuali :
a.       Norma Sopan santun
b.      Norma Agama
c.       Norma Hukum
d.      Norma Kenegaraan (*)

  1. 5.      “Penjabaran hukum ekonomi pembangunan dan hukum ekonomi sosial sehingga hukum ekonomi tersebut mempunyai dua aspek.” Adalah pengertian hukum ekonomi menurut
a.       Sunaryanti Harnoto (*)
b.      Aristoteles
c.       Dr. Wirjono Prodjodikoro. S.H
d.      G.W. Keeton

 (*) adalah jawaban yang benar
Shinta Nur Amalia
2EB09/26210523

Saturday, March 10, 2012

Hukum dan Hukum Ekonomi


Hukum dan Hukum Ekonomi
Hukum adalah sistem yang terpenting dalam pelaksanaan atas rangkaian kekuasaan kelembagaan. Dari bentuk penyalahgunaan kekuasaan dalam bidang politik, ekonomi dan masyarakat dalam berbagai cara dan bertindak, sebagai perantara utama dalam hubungan sosial antar masyarakat terhadap kriminalisasi dalam hukum pidana, hukum pidana yang berupayakan cara negara dapat menuntut pelaku dalam konstitusi hukum menyediakan kerangka kerja bagi penciptaan hukum, perlindungan hak asasi manusia dan memperluas kekuasaan politik serta cara perwakilan di mana mereka yang akan dipilih. Administratif hukum digunakan untuk meninjau kembali keputusan dari pemerintah, sementara hukum internasional mengatur persoalan antara berdaulat negara dalam kegiatan mulai dari perdagangan lingkungan peraturan atau tindakan militer. filsuf Aristotle menyatakan bahwa "Sebuah supremasi hukum akan jauh lebih baik dari pada dibandingkan dengan peraturan tirani yang merajalela.”
Tujuan Hukum dan Sumber-sumber Hukum
Tujuan hukum yang bersifat universal adalah ketertiban, ketenteraman, kedamaian, kesejahteraan dan kebahagiaan dalam tata kehidupan bermasyarakat.
Dalam perkembangan masyarakat fungsi hukum terdiri dari :
a. Sebagai alat pengatur tata tertib hubungan masyarakat
b. Sebagai sarana untuk mewujudkan keadilan sosial lahir dan batin
c. Sebagai sarana penggerak pembangunan
d. Sebagai fungsi kritis
Berikut ini adalah tujuan hukum menurut para ahli hukum, antara lain :
1. Dr. Wirjono Prodjodikoro. S.H
Ia mengatakan bahwa masing-masing anggota masyarakat mempunyai kepentingan yang beraneka ragam. Wujud dan jumlah kepentingannya tergantung pada wujud dan sifat kemanusiaan yang ada di dalam tubuh para anggota masyarakat masing-masing. Hawa nafsu masing-masing menimbulkan keinginan untuk mendapatkan kepuasan dalam hidupnya sehari-hari dan supaya segala kepentingannya terpelihara dengan sebaik-baiknya.
Untuk memenuhi keinginan-keinginan tersebut timbul berbagai usaha untuk mencapainya, yang mengakibatkan timbulnya bentrokan-bentrokan antara barbagai macam kepentingan anggota masyarakat. Akibat bentrokan tersebut masyarakat menjadi guncang dan keguncangan ini harus dihindari. Menghindarkan keguncangan dalam masyarakat inilah sebetulnya maksud daripada tujuan hukum, maka hukum menciptakan pelbagai hubungan tertentu dalam hubungan masyarakat.
2. Prof. Subekti, S.H.
Menurut Prof. Subekti SH keadilan berasal dari Tuhan YME dan setiap orang diberi kemampuan, kecakapan untuk meraba dan merasakan keadilan itu. Dan segala apa yang di dunia ini sudah semestinya menimbulkan dasar-dasar keadilan pada manusia.
Dengan demikian, hukum tidak hanya mencarikan keseimbangan antara pelbagai kepentingan yang bertentangan satu sama lain, akan tetapi juga untuk mendapatkan keseimbangan antara tuntutan keadilan tersebut dengan “Ketertiban“ atau “Kepastian Hukum“.
3. Prof. Mr. Dr. L.J. Apeldoorn.
Dalam bukunya “Inleiding tot de studie van het Nederlanse Recht”, Apeldoorn menyatakan bahwa tujuan Hukum adalah mengatur tata tertib dalam masyarakat secara damai dan adil.
Untuk mencapai kedamaian Hukum harus diciptakan masyarakat yang adil dengan mengadakan perimbanagn antara kepentingan yang saling bertentangan satu sama lain dan setiap orang harus memperoleh (sedapat mungkin) apa yang menjadi haknya. Pendapat Van Apeldoorn ini dapat dikatakan jalan tengah antara 2 teori tujuan hukum, Teori Etis dan Utilitis.
4. Aristoteles.
Menurut teori bukunya yang berjudul “Rhetorica”, hukum mempunyai tugas suci dan luhur, ialah keadilan dengan memberikan tiap-tiap orang apa yang berhak dia terima yang memerlukan peraturan sendiri bagi tiap-tap kasus. Apabila ini dilaksanakan maka tidak akan ada habisnya. Oleh karenanya Hukum harus membuat apa yang dinamakan “Algemeene Regels”(Peratuaturan atau ketentuan-ketentyuan umum. Peraturan ini diperlukan oleh masyarakat teratur demi kepentingan kepastian Hukum, meskipun pad asewktu-waktu dadapat menimbulkan ketidak adilan.
5. Jeremy Bentham
Dalam Bukunya “Introduction to the morals and negismation”, ia mengatakan bahwa hukum bertujuan semata-mata apa yang berfaedah pada orang. Pendapat ini dititikberatkan pada hal-hal yang berfaedah pada orang banyak dan bersifat umum tanpa memperhatikan soal keadilan. Disini kepastian melalui hukum bagi perorangan merupakan tujuan utama dari Hukum.
6. Mr. J.H.P. Bellefroid.
Bellefroid menggabungkan 2 pandangn ekstrim tersebut. Ia menggabungkan dalam bukunya “Inleiding tot de Rechts wetenshap in Nederland” bahwa isi hukum harus ditentukan menurut 2 asas, ialah asas keadilan dan faedah.
Sumber-sumber Hukum
Sumber Hukum , Tempat untuk menggali / menemukan hak nya
A. Beberapa arti Sumber Hukum
 1. Sebagai asas hukum
 2. Sebagai hukum terdahulu yang memberikan bahan-bahan pada hukum saat ini
 3. Sebagai sumber berlakunya hukum (yang memberi kekuatan berlaku secara formal kepada peraturan hukum)  Ex: Penguasa, masyarakat.
B. Sebagai sumber dari mana kita dapat mengenali hukum. Ex: dokumen, undang-undang, lontar, batu tulis, dll.
C.  Sebagai sumber terjadinya hukum / sumber yang menimbulkan hukum
ALGRA , Membagi sumber hukum menjadi 2:
 1. Sumber hukum materiil
 tempat dari mana materi hukum itu diambil; merupakan faktor yang membantu pembentukan hukum. Ex:hub. sosial, hubungan kekuatan politik, situasi sosial ekonomis, tradisi, dll
 2. Sumber hukum formil
 Tempat atau sumber dari mana suatu peraturan memperoleh kekuatan mengikat; berkaitan dengan bentuk atau cara yang menyebabkan peraturan hukum itu formal berlaku. Contohnya : UU, perjanjian antar negara, yurisprudensi , kebiasaan .
Van APELDOORN , Membedakan sumber hukum menjadi 4 macam:
 1. Sumber hukum dalam arti historis : tempat kita menemukan hukumnya dalam sejarah
 a. Sumber hukum yang merupakan tempat dapat diketemukan atau dikenal hukum secara historis. Ex: dokumen-dokumen kuno, lontar, dsb.
 b. Sumber hukum yg merupakan tempat pembentuk UU mengambil bahannya\
 2. Sumber hukum dalam arti sosiologis (teleologis) : Faktor-faktor yang menentukan isi hukum positif.  Ex: pandangan agama
 3. Sumber hukum dalam arti filosofis
 a. Sumber isi hukum isi hukum asalnya dari mana?
 • Pandangan teokratis dari Tuhan
 • Pandangan hukum kodrat dari akal manusia
 • Pandangan mazhab historis dari kesadaran
 b. Sumber kekuatan mengikat dari hukum hukum
 c. Sumber hukum dalam arti formil
 Sumber dilihat dari cara terjadinya hukum positip merupakan fakta yang menimbulkan hukum yang berlaku yang mengikat hakim dan penduduk

Edward Jenk bahwa terdapat 3 jenis sumebr hukum atau yang biasa disebut “Forms Of Law”, antara lain :
 • Statutory
 • Judiviary
 • Literaty
G.W. Keeton sumber hukum terbagi menjadi 3 dasar yaitu :
 • Binding sources (formal) yang terdiri dari :
 - custom
 - legislation
 - judical precedents
 • Persuasive sources (materiil) yang terdiri dari :
 - principles of morality or equity
 - professional opinion
 Sumber-sumber Hukum Bisnis pada Aspek Hukum dalam Ekonomi
1.1. Perundang-undangan
 Perundang-undangan dalam hal ini meliputi undang-undang peninggalan Hindia Belanda di Indonesia pada masa lampau, namun masih dianggap berlaku dan sah hingga saat ini berdasarkan atas peralihan UUD 1945, misalya ketentuan-ketentuan yang terdapat dalam KUHD (Kitab Undang-undang Hukum Dagang). Selain itu juga perundang-undangan yang termaktub mengenai perusahaan di Indonesia, berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 yang terus dilaksanakan dan dikembangkan hingga saat ini.
1.2. Kontrak Perusahaan
 Kontrak perusahaan atau yang biasa juga disebut dengan perjanjian selalu ditulis dan dianggap sebagai sumber utama hak dan kewajiban pihak-pihak yang terlibat dalam suatu kesepakatan. Apabila saat tertentu terjadi perselisihan antara pihak-pihak terkait, dalam hal ini saat kontrak perusahaan masih berlaku, maka penyelesaian dapat dilakukan melalui perdamaian, arbitase, atau pengadilan umum sekali pun jika tidak ditemui penyelesaian yang jelas. Tentunya kontrak perusahaan ini yang akan memberikan pertimbangan tertentu sekaligus secara jelas akan mempengaruhi putusan. Karena secara jelas semua menyangkut kontak dan ketentuannya telah tercantum dalam kontrak tersebut.
1.3. Yurispudensi
 Yurisprudensi adalah sumber hukum perusahaan yang dapat diikuti oleh pihak-pihak terkait. Hal ini akan mengisi kekosongan hukum, terutama jika terjadi suatu sengketa terkait pemenuhan hak dan kewajiban. Secara otomatis, yurisprudensi ini akan memberikan jaminan perlindungan atas kepentingan pihak-pihak, terutama bagi mereka yang berusaha di Indonesia.
1.4. Kebiasaan
 Kebiasaan merupakan sumber hukum khusus yang tidak tertulis secara formal. Kebiasaan sebagai sumber hukum dapat diikuti pengusaha tatkala peraturan mengenai pemenuhan hak dan kewajiban tidak tercantum dalam undang-undang dan perjanjian. Kebiasaan yang biasanya dapat menjadi acuan bagi perusahaan adalah yang memenuhi kriteria sebagai berikut:
 a) Perbuatan yang bersifat perdata
 b) Mengenai hak serta kewajiban yang harus dipenuhi
 c) Tidak bertentangan dengan undang-undang atau sumeber hukum lainnya
 d) Diterima oleh semua pihak secara sukarela karena telah dianggap sebagai hal yang logis dan patuh
 e) Menerima dari berbagai akibat hukum yang dikehendaki oleh semua pihak.
Kaidah dan Norma
Kaidah berasal dari bahasa Arab atau Norma berasal dari bahasa Latin. Anggapan-anggapan yang sedikit atau banyak mengikat perbuatan seseorang dalam masyarakat atau suatu klelompok dalam masyarakat. Anggapan-anggapan ini memberi petunjuk bagaimana seseorang harus berbuat atau tidak berbuat. Dengan kata lain dapat diartikan sebagai patokan-patokan atau pedoman-pedoman perihal tingkah laku dan perikelakuan yang diharapkan. Norma yang berlaku di suatu bangsa tidak selalu berlaku pada bangsa yang lain.
Tujuan Norma adalah untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik aman dan tertib. Contoh jenis dan macam norma :
1.       Norma Sopan santun
2.       Norma Agama
3.       Norma Hukum
Kaidah atau norma etika merupakan bagian dari kehidupan kita. Norma-norma yang biasa kita temui, antara lain hati nurani, kebebasan dan tanggung jawab, nilai dan norma, serta hak dan kewajiban.
Isi kaidah / norma
1. Perintah, yang merupakan keharusan bagi seseorang untuk berbuat sesuatu oleh karena akibat2nya dipandang baik.
2. Larangan, yang merupakan keharusan bagi seseorang untuk tidak berbuat sesuatu oleh karena akibat-akibatnya dipandang tidak baik.
Guna kaidah / norma : Memberi petunjuk kepada manusia bagaimana seorang harus bertindak dalam masyarakat serta perbuatan-perbuatan mana yang harus dijalankan dan perbuatan-perbuatan mana pula yang harus dihindari.
Kaidah sosial dibedakan menjadi :
1. Kaidah yang mengatur kehidupan pribadi manusia
a. Kaidah kepercayaan/agama
Bertujuan untuk mencapai suatu kehidupan yang beriman (Purnadi Purbacaraka 1974 : 4). Kaidah ini ditujukan terhadap kewajiban manusia kepada Tuhan. Sumbernya adalah ajaran-ajaran kepercayaan/agama yang oleh pengikut-pengikutnya dianggap sebagai perintah Tuhan,
b. Kaidah kesusilaan
Bertujuan agar manusia hidup berakhlak atau mempunyai hati nurani. Merupakan peraturan hidup yang dianggap sebagai suara hati nurani manusia (insan kamil). Sumber kaidah ini adalah dari manusia sendiri, jadi bersifat otonom dan tidak ditujukan kepada sikap lahir tetapi ditujukan kepada sikap batin manusia juga. Misalnya : Berlaku jujur dan berbuat baik kepada sesama manusia.
Dalam kaidah kesusilaan tedapat juga peraturan-peraturan hidup seperti yang terdapat dalam norma agama misalnya menghormati kedua orang tua.
2. Kaidah yang mengatur kehidupan antara manusia atau pribadi
a. Kaidah Kesopanan
Bertujuan agar pergaulan hidup berlangsung dengan menyenangkan. Merupakan peraturan hidup yang timbul dari pergaulan segolongan manusia, misalnya : orang yang lebih muda harus menghormati orang yang lebih tua atau jangan meludah disembarang tempat.
b. Kaidah Hukum
Bertujuan untuk mencapai kedamaian dalam pergaulan hidup antar manusia. Merupakan peraturan-peraturan yang timbul dari norma hukum, dibuat oleh penguasa negara. Isinya mengikat setiap orang dan pelaksanaannya dapat dipertahankan dengan segala paksaan oleh alat-alat negara. Misalnya,dilarang mengambil milik orang lain tanpa seizin yang punya.
Pengertian Ekonomi dan Hukum Ekonomi
Pengertian ekonomi
Menurut M. Manulang ilmu ekonomi adalah suatu ilmu yang mempelajari masyarakat dalam usahanya untuk mencapai kemakmuran ( kemakmuran suatu keadaan di mana manusia dapat memenuhi kebutuhannya, baik barang-barang mapun jasa ).
Hukum Ekonomi
Hukum ekonomi lahir disebabkan oleh semakin pesatnya pertumbuhan dan perkembangan perekonomian. Di seluruh dunia hukum berfungsi untuk mengatur dan membatasi kegiatan-kegiatan ekonomi dengan harapan pembangunan perekonomian tidak mengabaikan hak-hak dan kepentingan masyarakat.
Sunaryanti Hartono mengatakan bahwa hukum ekonomi adalah penjabaran hukum ekonomi pembangunan dan hukum ekonomi social sehingga hukum ekonomi tersebut mempunyai dua aspek berikut.
1. Aspek pengaturan usaha-usaha pembangunan ekonomi dalam arti peningkatan kehidupan ekonomi secara keseluruhan.
2. Aspek pengaturan usaha-usaha pembagian hasil pembangunan ekonomi secara merata di antara seluruh lapisan masyarakat sehingga setiap warga Negara Indonesia dapat menikmati hasil pembangunan ekonomi sesuai dengan sumbangannya dalam usaha pembangunan ekonomi tersebut.
Sumber :
Shinta Nur Amalia
2EB09/26210523

Monday, January 23, 2012

Bayu-Tania part 3

4 tahun kemudian
Waktu berlalu begitu sangat cepat, Tania masih memandangi batu nisan bertuliskan nama mendiang suaminya, Muhammad Justin Reeves. Ya, Sudah setahun Justin meninggalkan dunia ini, meninggalkan Tania dan Keanu sendiri. Tania masih tidak percaya bahwa suami yang begitu dicintainya pergi begitu saja, Justin meninggal karena penyakit kanker otak yang sebenarnya sudah lama ia derita, tetapi ia tidak pernah cerita sejujurnya kepada Tania karena tidak ingin membuat Tania khawatir dan takut akan kehilangan dirinya. Tania menitikkan air mata, diusapnya batu nisan itu sambil memanjatkan doa-doa untuk almarhum suaminya agar tenang di alam sana. Setahun terakhir yang begitu sulit bagi Tania, berjuang sendiri untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dan biaya membesarkan Keanu. Sudah enam bulan ini Tania tinggal di Indonesia lagi bersama kedua orang tuanya dan adik laki-lakinya. Sekarang Tania bekerja di perusahaan tempatnya bekerja dulu sebelum ia pindah ke Inggris.
Seminggu kemudian
Tania baru saja kembali dari London, sehabis berziarah ke makam suaminya dan bersilaturahmi dengan kedua orang tua Justin. Sepulangnya dari London ia kembali bekerja seperti biasa, semua sahabat-sahabat Tania semasa SMA dan kuliah sudah mengetahui keadaan Tania sekarang, mereka sangat bersimpati sekali terhadap dirinya, begitu pula dengan Bayu. Ya, Bayu memang belum menyerah untuk mendapatkan hati Tania kembali. Setelah Tania menikah, Bayu memang sempat menjalin hubungan dengan beberapa wanita tetapi semua itu tidak ada yang sampai pada suatu hubungan yang serius dan ketika Bayu mendengar bahwa Tania sudah menjanda sekarang menjadi pertanda bahwa seakan-akan kesempatan kedua itu benar adanya.
Sore itu Tania sedang belanja kebutuhan rumah tangga di supermarket yang berada di mall di kawasan Thamrin. Tania sedang terlihat kerepotan, di tangan kanannya ia membawa dua kantongan belanjaan dan dilengan kirinya ia mengalungkan tas kerjanya sambil memegang smartphone ditangan kirinya.
“ehem permisi..” ujar seorang laki-laki yang mengagetkan Tania yang sedang menunggu taksi di lobby mall.
“Bay? Bayu?” Tania terperangah, hampir saja kantong belanjanya terlepas dari genggaman kedua tangannya.
“selamat sore Tan, kebetulan banget ya kita bisa ketemu lagi. kamu mau pulang ya? Gimana kalau kita ngopi dulu sebentar..”
“maaf Bay, aku harus segera pulang..” ujar Tania yang gelisah karena antrian untuk taksinya masih lama dan ia ingin segera pergi karena tidak mau terjebak dengan Bayu.
“nanti kamu aku antar pulang, aku janji sebentar saja kita ngobrol” ujar Bayu yang terus membujuk Tania.
Tania mendengus, “oke kalo begitu..”
...........
Bayu mengajak ke kafe tempat mereka bertemu dulu, tempat terakhir mereka bertemu dulu, tempat Tania mengucapkan kata-kata terakhirnya sebelum resmi menjadi istri dari Justin Reeves. Setelah memesan kopi dan cemilannya, Tania masih termangu, ia tidak percaya kalau ia sedang bersama lelaki pujaan hatinya dulu.
“aku sudah tahu semuanya Tan, kamu ngga usah terlalu larut begitu lama, kamu harus move on..” Bayu memulai pembicaraan.
“itu ngga semudah yang kamu ucapkan Bay..” ujar Tania pelan sambil menuangkan gula mengaduk-aduk kopinya.
“kamu tahu, aku ngga pernah bisa tenang Tan setelah kamu pergi ke London kemarin, aku berkali-kali berhubungan dengan wanita lain untuk melupakan kamu, tapi aku ngga pernah bisa.” Ujar Bayu. Ia tidak mau kehilangan momen yang sangat langka ini.
Tania mendengus, “kamu mau merayu aku lagi?” tanya Tania dengan raut muka yang sedikit kesal.
“apa yang harus aku lakukan Tan supaya kamu percaya kalau aku benar-benar cinta dan sayang sama kamu?”
Tania terdiam, bola matanya berputar, ia menggigit bibirnya dan merasa gamang.
“Tan, jawab pertanyaan aku..”
“aku belum siap dengan semuanya Bay. Aku mau pulang saja.” Jawab Tania lalu membereskan tas dan kantong belanjanya.
“aku antar kamu pulang..” ujar Bayu lalu mengamit tangan kanannya Tania dan membawa kantong belanjanya Tania.
Sepanjang perjalanan pulang ke rumah tidak ada percakapan antara Bayu dan Tania, Tania sibuk memainkan smartphonenya dan Bayu sibuk konsentrasi mengamati jalan ibukota yang selalu macet setiap harinya apalagi di jam pulang kerja. 40 menit kemudian, Tania sudah sampai didepan rumahnya, Bayu memakirkan mobilnya didepan gerbang rumahnya Tania. Tania menoleh dan mengucapkan terima kasih karena telah mengantarkannya pulang.
“kamu ngga usah sungkan buat ngehubungin aku, kalo kamu butuh sesuatu telpon saja aku..” ujar Bayu yang memperhatikan wajah Tania dengan seksama.
“thanks Bay, ngga usah repot-repot begitu. Aku permisi ya.” Ujar Tania lalu keluar dari mobilnya Bayu.
Tania segera membuka pintu gerbang rumahnya, ketika mobilnya sudah berlalu, Tania masih memperhatikannya dengan seksama, Tania tersenyum akan apa yang terjadi padanya saat itu, ia merasakan sesuatu yang berbeda dari kehadiran Bayu tadi, entah menagapa Tania merasa nyaman sebenarnya berada didekat Bayu, tapi Tania tidak mau gegabah dengan perasaannya, mungkin saja Bayu masih ingin mempermainkannya, Tania tersadar dari lamunannya dan buru-buru masuk kedalam rumah.
............
Tiga bulan kemudian
“Nu, i miss your Papa..” ujar Tania kepada anaknya, Keanu. Pagi itu Tania seperti biasa sedang memandikan Keanu. Sambil mengguyurkan air dan menyabuni tubuh Keanu yang tipis dan sensitif itu Tania mengajak Keanu bercerita.
“Nu, you must be miss your Papa too right? Nu, how about if Mommy have a new boyfriend? But i still love your Papa, Nu..” Tania bertanya kepada Keanu seakan-akan Keanu sudah mengerti apa yang terjadi pada dirinya akhir-akhir ini. Kedekatannya kembali dengan Bayu membuat Tania sedikit bersemangat dalam menjalani hidupnya, Tania memang tidak akan menikah dengan Bayu dalam waktu dekat tapi setidaknya hubungan itu pasti akan menjadi lebih serius nantinya, di usianya yang hampir mencapai kepala tiga, tidak mungkin bagi Tania apalagi Bayu masih bermain-main dengan hubungan mereka.
Setelah memandikan dan memakaikan Keanu baju, Tania segera menyuapi anaknya sarapan pagi, begitu rutinitas Tania setiap paginya sebelum berangkat kerja, kebetulan hari ini Tania dijemput Bayu jadi ia tidak perlu berangkat pagi-pagi agar tidak ketinggalan bus.
“tiin..tiin..” terdengar klakson mobilnya Bayu dari luar rumah orang tuanya Tania.
“Mam, aku jalan dulu” ujar Tania pada ibunya. “bye bye Nu, see you this evening..” ujar Tania kemudian melambaikan tangan kepada anaknya.
Tania melangkah keluar rumahnya dengan senyum yang sumringah, dihampirinya mobil Mazda Range Rover berwarna hitam keluaran terbaru itu, Bayu sudah menunggu disamping pintu mobilnya, Tania menolehkan senyumnya dan Bayu membalas senyumannya Tania lalu membukakan pintu untuknya.
“you look so stunning this morning..” ujar Bayu memuji wanita yang sangat dicintainya itu.
“thank you but it’s too early to flirting me hehe..” ujar Tania. Lalu keduanya memakai safety belt dan Bayu pun memacu mobilnya, mengantarkan Tania ke kantornya, kebiasaan yang sudah terjadi di sebulan terakhir ini.
.............
Siang ini Tania sedang makan siang bersama dengan Dira yang kebetulan kantor mereka berdekatan. Mereka makan siang di salah satu pusat perbelanjaan di kawasan Thamrin.
“gimana sekarang sama Bayu? Lancar?” tanya Dira sambil memotong steak daging favoritnya.
“jalan tol kali lancar, ya begitu deh Dir, kayaknya Bayu serius deh dan gue juga udah ketemu sama bokap dan nyokapnya lagi..” jawab Tania yang sedang asyik menyantap pasta nya.
“what! Terus mereka merestui kalian? Mereka tahu kalo lo...” Dira tidak sanggup meneruskan kalimatnya.
“janda?” Tania melengkapi maksud dari kalimat yang ingin diutarakan Dira.
Dira mengangguk sambil mengunyah steaknya.
“mereka menanggapinya positif, karena mungkin gue menjanda karena takdir yang ngga bisa dihindari bukan sesuatu yang diinginkan oleh gue sendiri.” Ujar Tania sambil menyeruput strawberry juicenya.
“baguslah kalo mereka menanggapi positif, sekarang gimana lo dan Bayu yang menjalaninya, kalo dia serius lo lanjutin mungkin dia emang jodoh lo tapi kalo dia cuma mempermainkan lo sekali lagi, tinggalkan dia!” ujar Dira.
Dira, Andra dan Bella sebenarnya menyayangkan keputusan Tania untuk menjalani hubungan kembali dengan Bayu, tetapi semuanya sudah terjadi dan diluar kendali, mungkin kali ini Bayu memang berniat serius untuk suatu hari nanti menikah dengan Tania.
.........
“aku ngga peduli Tan status kamu apa, forsake of God! Aku ngga pernah sebahagia ini, berada disamping kamu,sekali lagi buat mewujudkan semuanya yang telah aku impikan selama ini..” ujar Bayu menggebu disela-sela makan malam mereka dan menggenggam tangan kiri Tania.
Tak terasa hubungan itu sudah enam bulan terjalin kembali, sudah segala cara dilakukan Bayu agar hati Tania benar-benar takluk kepadanya, agar Tania mau menerima lamarannya suatu hari nanti. Tania menghela nafas, Tania teringat akan peristiwa beberapa tahun silam, ketika itu memang Tania dan Bayu sudah lost contact, tanpa disangka Bayu menelepon Tania di sore yang mendung itu, Tania masih ingat dengan jelas sekali bagaimana kejadiannya.
+62898xxxxxxx calling
Tania mengacuhkan saja ponselnya yang berdering, dilihatnya layar ponselnya itu, sekali ia melihat ke layar ponselnya ia tidak mengenali nomer itu, sejurus kemudian dia tersentak, diperhatikannya urutan nomer yang tertera di layar ponselnya.
“Bayu?” ujarnya dalam hati. Lalu Tania mengangkat telpon dari Bayu.
“halo..” ujar Tania.
“halo..Tania?” ujar Bayu sedikit gugup karena sudah lama sekali tidak mendengar suara Tania.
“ada apa ya Bay? Tumben banget telepon aku”
“aku kangen sama kamu Tan, udah lama ya kita ngga ngobrol”
“emang kamu masih peduli sama aku?”
“heem maaf deh kalo udah ganggu ya”
“ngga ganggu kok Bay,kalo ganggu aku ngga akan angkat teleponnya, tapi beneran aneh aja kamu telepon aku.”
“kita bisa ketemu ngga hari minggu?”
Tania melengos, memejamkan matanya sesaat, membayangkan wajah Bayu, wajah lelaki yang sudah lama tak ia lihat, seperti apa rupanya sekarang? Apakah ia masih mengenakan kacamata nya yang semakin membuatnya terlihat cool? Apakah rambutnya masih di-mohawk? Dan masih banyak apakah yang lainnya berlalu lalang dipikiran Tania saat itu.
“halo Tan?” ujar Bayu diseberang telepon yang menyadarkan Tania dari lamunannya.
“iya maaf, bisa kok. Kita ketemu dimana?”
“aku jemput kamu dirumah,oke?”
“oke Bay hari minggu yaa..”
“oke, see you on Sunday babe!” klik. Lalu Bayu menutup teleponnya.
Seketika Tania merebahkan dirinya di tempat tidur, ia tak habis pikir akan apa yang terjadi pada dirinya saat itu. Apa yang menyebabkan Bayu menghubunginya secara tiba-tiba padahal mereka sudah hampir dua tahun tidak berkomunikasi intensif bahkan telepon tadi adalah telepon pertama setelah setahun mereka tidak saling menghubungi. Hari minggu yang dijanjikan Bayu pun datang, tapi Bayu yang ditunggu tak kunjung datang, berkali-kali Tania mencoba menghubungi nomer ponselnya Bayu tetapi tidak diangkat bahkan sempat mail box. Tania tercekat, seolah ada sebuah bola baseball yang tersangkut di kerongkongannya, ia susah bernapas, dadanya sesak ketika ia menyadari apa yang terjadi pada saat itu. “oh mungkin Bayu salah menelepon wanita sore itu, mungkin telepon itu dimaksudkan untuk wanita yang lain bukan untuk dirinya.” Pikirnya dalam hati. Perlahan air mata pun membasahi kedua pipinya. Sejak saat itu Tania berjanji pada dirinya sendiri untuk membalas dendam kepada Bayu suatu hari nanti.
............
“Tan? Taniaaa...” ujar Bayu mengguncangkan tangan kirinya Tania.
Tania tersadar dari lamunannya dan tersenyum kepada Bayu.
“kamu kenapa sih? Kamu ngga dengerin aku ngomong ya?” tanya Bayu lagi.
“heem aku dengerin kok, terima kasih buat semuanya ya Bay, aku ngga pernah terpikir kalo semuanya akan jadi begini, yang aku rencanakan dulu aku balas dendam sama kamu supaya kamu jera tapi ternyata kita dipersatukan lagi..” jawab Tania.
“kamu tau ngga yang, itu namanya kita jodoh..” ujar Bayu centil.
“emang aku mau nikah sama kamu? Ih pede bangeeet” ujar Tania.
“jadi kamu...” ujar Bayu terbata
Tania tertawa kecil sementara Bayu masih memandanginya dengan tatapan bingung.
“ngga kok sayang, gimana kamunya aja meyakinkan aku” ujar Tania sambil memutar bola matanya dan memasang wajah sedikit genit untuk meledek Bayu yang sangat serius.
..............

6 bulan kemudian
Tania duduk di sofa berwarna merah maroon itu, ia merebahkan badannya, lelah sering menghampirinya, ya karena Tania dan Bayu sedang mempersiapkan segala kebutuhan untuk pesta pernikahan mereka yang akan diselenggarakan bulan depan yang bertepatan dengan tanggal ulang tahunnya Bayu ke 31. Kebetulan siang itu, Tania sedang berada dirumah Bayu untuk membicarakan segala tetek-bengek tentang pernikahan dengan calon mertuanya, ibunya Bayu. Ini memang bukan pernikahan pertamanya Tania tetapi ini pernikahan pertamanya Bayu yang pasti akan diadakan secara meriah karena kedua orang tua Bayu mempunyai banyak relasi dari kalangan pejabat, pebisnis, ekspatriat dan seabrek orang penting di negeri ini.
“kak Taniaaa...” Citra memanggil dari ruang makan
“hey, kamu ngga kerja?” tanya Tania kepada adik perempuan satu-satunya calon suaminya.
“ngga nih aku kurang sehat, gimana semuanya? Beres? Mama ngga ngerepotin kan? Pasti agak berlebihan deh si Mama maklum ya Kak, Kak Bayu itu kesayangannya Mama.” Ujar Citra sambil menyeruput orange juice.
“ngga kok, Kakak paham banget cuma buat akad nikahnya kok ribet ya..” ujar Tania sambil membuka-buka majalah yang berisikan artikel tentang pernikahan.
“gitu deh kalo pake adat palembang..” jawab Citra.
“eh iya Kak, aku mau ngomong nih tentang sesuatu..” ujar Citra dengan nada agak ragu.
“kenapa Cit? Ngomong aja..”
“makasih banget ya Kak udah mau jadi istrinya Kak Bayu, sebenarnya semenjak Kak Bayu putus sama Kak Tania dulu waktu lulus SMA  kak Bayu ngerasa nyesel banget karena udah nyakitin dan ninggalin Kakak gitu aja, Kak Bayu berjanji sama dirinya sendiri kalo suatu hari nanti mau buktiin ke Kak Tania kalo dia sangat menyesal dan mau memperbaiki semuanya, Kak Bayu itu sayang banget sama Kakak. Sekian banyak wanita yang pernah bersama Kak Bayu ngga ada yang pernah berkesan.”
Tania mendengus dan menutup majalah yang sedang ia baca.
“jadi begitu yang sebenarnya Cit?” tanya Tania seolah tak percaya akan apa yang dikatakan Citra.
Citra tersenyum dan mengangguk menandakan semua cerita itu benar adanya.
“Kak Bayu ngga akan pernah maafin dirinya sebelum Kak Tania bisa memaafkan Kak Bayu..” lanjut Citra lagi.
“Cit, begitu aku terima lamaran Bayu secara pribadi kemarin disaat itu aku udah maafin dia dan terima dia sebagai teman hidup Kakak sampai nanti,Kakak berharap Bayu bisa menjadi suami yang baik buat Kakak dan ayah yang baik buat Keanu.” Ujar Tania dengan sedikit berlinang air mata kemudian Tania memeluk Citra dengan sangat erat.
“Kakak jangan sedih, Kakak harusnya bahagia sekarang..” ujar Citra menghibur calon kakak iparnya.
“aku bahagia sekarang, Cit, aku cuma ngga nyangka aja kalo akhirnya kayak begini, ini takdir ya..” ujar Tania.
“Taniaaa, perias pengantin kamu sudah datang, ayo kita pilih riasan buat kamu yang mana cocok nanti..” suara Ibu nya Bayu memecah keharuan yang sedang terjadi antara Tania dan Citra.
“iya Ma, sebentar..” ujar Tania lalu segera menghampiri calon ibu mertuanya di ruang tamu.
..........
Tania sedang terpaku dimejanya, begitu banyak pekerjaan  yang harus segera diselesaikan, pandangan dan pikirannya hanya tertuju pada file-file yang berserakan dan laptopnya, deadline sudah mengejarnya. Tiba-tiba pintu ruangannya terbuka, muncul sesosok lelaki berbadan tegap, tinggi dan menyebarkan wangi semerbak dari parfum yang dikenakannya.
“hai sayang, kamu sibuk banget ya..” ujar Bayu memecah keheningan di ruangan kerja Tania.
“hai sayang, iya aku sibuk banget nih lagi menyelesaikan tugas dari Pak Ardi..”ujar Tania dengan tangannya yang masih sibuk mengetik.
Lalu Bayu menyerahkan beberapa lembar brosur kepada Tania. “apa ini?” tanya Tania. Lalu dilihatnya dengan seksama brosur yang diberikan Bayu.
“Hawaii? Maksud kamu?” tanya Tania lagi.
“kita akan honeymoon ke Hawaii sayang, aku udah izinin kamu sama Pak Ardi dan beliau ngasih kamu cuti dua minggu” jawab Bayu menjelaskan maksud kedatangannya.
Tania tercengang, ia tak percaya Bayu mempersiapkan ini semua.
“makasih ya sayang, aku ngga minta kita harus honeymoon ke luar negeri, Hawaii pula..” ujar Tania yang bangkit dari kursinya dan memeluk Bayu dengan erat.
“sama-sama sayang, yaudah kamu lanjutin kerja, aku balik ke kantor ya..” ujar Bayu lalu mencium kening Tania.
“iya sayang, hati-hati ya..”
........
Sore ini Tania pulang sendiri karena Bayu meneleponnya tidak bisa mengantarnya karena ada meeting mendadak dengan klien, begitu Tania membuka pintu gerbang rumahnnya, Tania kaget bukan kepalang melihat mobil Mazda CX-7 keluaran terbaru terparkir rapih di depan garasi rumahnya. Kemudian Tania berlari kecil masuk kedalam rumahnya.
“Ma, itu mobil siapa di luar?” tanya Tania.
“tadi Bayu yang mengirimnya kesini, buat kamu Tan, hadiah pernikahan kamu, Bayu baik banget ya..” jawab Ibunya Tania.
“Bayu? Ya ampun, aduh..” ujar Tania yang tak percaya dengan jawaban ibunya.
“yaudah aku mau telepon dia dulu..” lanjut Tania lagi.
Kemudian Tania masuk ke dalam kamarnya, segera ia mendial nomer ponselnya Bayu.
“halo sayang..” ujar Tania begitu Bayu mengangkat teleponnya.
“halo sayang, kamu udah sampai rumah?” tanya Bayu.
“udah, eh kamu apa-apaan sih? Pake beliin aku mobil baru, itu mahal Bay, balikin ke dealer aja deh..” ujar Tania.
“sayang, aku emang udah niat mau beliin kamu mobil, terima ya, please..”
“yaudah deh, makasih banget ya sayang, aku ngga tau harus ngomong apa, aku speechlees. Honeymoon ke Hawaii dan mobil baru.”
“hehehe sama-sama sayang, buat saat ini sampai selamanya, aku cuma mau buat kamu happy..”
“it’s more than i expected, it’s just too much,darl..”
“it’s ok babe! Alright, i’m on meeting, talk to you later,i love you!” ujar Bayu
“i love you too!” ujar Tania mengakhiri pembicaraan di telepon itu.
...........
Ibunya Tania menghampiri Tania yang sedang merapihkan baju yang dikenakannya untuk akad nikahnya.
“Taniaa..” ucap Ibunya yang berjalan mendekatinya yang sedang bercermin di kaca.
“ya Ma, ada apa?”
“selamat ya sayang, Mama senang banget akhirnya kamu bisa bahagia lagi, dibalik semua kepedihan yang Allah berikan ternyata kamu diberkahi begitu banyak kebahagiaan.” Ujar Ibunya yang perlahan menitikkan air mata dan memeluk Tania dengan erat.
“Mamaa, jangan nangis. Sekarang Tania paham dengan semua yang terjadi selama ini, makasih ya Ma udah support Tania selama ini..”
“sam-sama sayang, oke kamu siap-siap sekarang ya..” ujar Ibunya.
“iya Ma..”
Akad nikah antara Bayu dan Tania pun berjalan dengan hikmat dan khusuk, dengan serangkaian adat palembang yang digunakan membuat acara semakin meriah.
“we’re finally here, darl..” bisik Bayu kepada Tania yang bersanding disampingnya.
“yes! Finally and i love you so much!” balas Tania dan menolehkan senyum kepada lelaki yang berada disampingnya, lelaki yang dulu menyakitinya kini justru menjadi suaminya.
.................

Wednesday, December 14, 2011

Evaluasi Program Bantuan Dana Bergulir


REVIEW JURNAL

Nama Kelompok:
Nuryana                                               25210226
Shinta Nur Amalia                            26210523
Yusuf  Fadillah                                   28210800
Yoga Wicaksana                                                28210647
Crishadi Juliantoro                           21210630
Evaluasi Program Bantuan Dana Bergulir

Abstrak
Artikel ini didasarkan pada studi yang dilakukan di enam provinsi selama tahun 2006.dalam
Bahkan, penelitian terdiri beberapa aspek evaluasi program dana bergulir dan untuk
beberapa alasan artikel dalam publikasi ini berfokus pada analisis efek. Studi pada analisis dampak program dana bergulir untuk memberdayakan Koperasi Tabungan danPinjaman termasuk bisnis yang SMEA sebagai anggota dari koperasi-mengungkapkan beberapamenarik
temuan. Beberapa dari mereka yang diusulkan untuk digunakan dalam restrukturisasi kebijakan bergulir dana program.

I . Pendahuluan
Upaya meningkatkan kesejahteraan ekonomi masyarakat, dalam banyak hal dipengaruhi oleh kondisi lingkungan dunia usaha. Dalam konteks ini, pengembangan bisnis usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) masih menghadapi kendala klasik yaitu permodalan. Inti permasalahannya adalah kondisi internal UMKM yang belum memenuhi persyaratan dan prosedur di lembaga keuangan, sedangkan lembaga keuangan menganut prinsip kehati-hatian (prudential principles).
Dalam kaitan ini, koperasi simpan pinjam (KSP) dan Unit Simpan Pinjam Koperasi (USP
Koperasi) diharapkan menjadi lembaga intermediasi untuk mengatasi kebutuhan modal UMKM, tanpa mengabaikan prinsip yang berlaku. Dewasa ini, tercatat sekitar 36.700 unit KSP/USP Koperasi, dengan anggota/nasabah sekitar 10,5 juta orang, asset lebih kurang Rp. 6,5 trilyun dan pinjaman yang disalurkan antara Rp. 4,5-6,0 trilyun. Data ini merefleksikan peran substansial dan kapasitas KSP/USP Koperasi dalam mobilisasi dana untuk mendorong kekuatan UMKM kearah yang lebih produktif dan mandiri.
Sementara itu, sejak tahun 2001 pemerintah melalui Kantor Menteri Negara Koperasi dan UKM (Kementerian KUKM) telah menyalurkan bantuan dana perkuatan bagi KSP/USP Koperasi yang bersumber dari Program Kompensasi Pengurangan Subsidi Bahan Bakar Minyak (PKPS-BBM). Program perkuatan dimaksud bersifat stimulan dalam bentuk penyaluran dana bergulir (revolving fund) dengan jumlah bervariasi. Nilai sebesar Rp. 100 juta diberikan kepada KSP/USP Koperasi Pola PKPS-BBM, Rp. 1 milyar untuk KSP/USP Koperasi Pola Agribisnis, dan KSP/ USP Syariah sebesar Rp. 50 juta. Tujuan program dana bergulir ini antara lain adalah untuk
a). meningkatkan aktivitas dan pendapatan UMKM melalui pelayanan simpan pinjam
b). meningkatkan kemamKoperasi, di sektor agribisnis
c). meningkatkan kualitas sumberdaya manusia pengelola KSP
d). meningkatkan akses anggota dan calon anggota untuk memperoleh pelayanan pinjaman dari KSP/USP Koperasi; d). khusus bagi KSP/ USP Koperasi Syariah adalah memberdayakan UMKM melalui kegiatan usaha yang berbasis Syariah.
Melalui program ini, keberadaan KSP/USP Koperasi diharapkan lebih bermanfaat bagi anggotanya dan sekaligus memperkokoh kepercayaan masyarakat terhadap koperasi. Sehubungan dengan itu, artikel ini secara khusus menyajikan ringkasan hasil kajian evaluasi dari aspek analisis pengaruh (effect analysis) program dana bergulir terhadap kinerja KSP/USP Koperasi.
2. TUJUAN DAN SASARAN KAJIAN
Tujuan kajian adalah :
1) Mengidentifikasi kegiatan usaha KSP/USP Koperasi  dengan Pola PKPS BBM, Pola Agr ibisnis dan Pola Syariah
2) Mengetahui dampak program dana bergulir terhadap usaha KSP/USP Koperasi dengan Pola PKPS BBM, Agribisnis dan Syariah; 3) Menyusun model alternatif program perkuatan
dana bergulir. Adapun sasaran kajian adalah tersedianya bahan kebijakan tentang
pembinaan KSP/USP Koperasi pengelola program dana bergulir dengan Pola Agribisnis dan Pola Syariah.
3. METODOLOGI KAJIAN
3.1 Lingkup Kegiatan
Program yang dievaluasi adalah program dana bergulir a). Pola PKPS-BBM (periode tahun 2000-2004); b). Pola Agribisnis (tahun 2003-2004); dan c). Pola Syariah (tahun 2003-2004). Cakupan kajian meliputi :
a). identifikasi konsep program, analisis operasionalisasi program;
b). analisis kinerja KSP/USP Koperasi penerima bantuan dana bergulir
c). analisis pengaruh program terhadap KSP/USP Koperasi, anggota koperasi dan masyarakat UMKM
d). merumuskan model alternatif program dana bergulir.puan dan jangkauan layanan
KSP/USP
3.3 Metode Penetapan Contoh (Sampling Method)
Lokasi kajian berada di tujuh provinsi yaitu, Provinsi Sumatera Selatan, Jawa Tengah, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan Selatan, Sulawesi Selatan dan Sulawesi  Tengah. Pengambilan contoh (sample) KSP/USP Koperasi dilakukan secara sengaja (purposive sampling method) yaitu enam unit KSP/USP Koperasi di setiap propinsi (dari populasi 42 KSP/USP Koperasi).
Selanjutnya, dipilih secara acak 10 orang responden anggota KSP/USP Koperasi dan 10 responden UKM masyarakat yang bukan anggota KSP/USP Koperasi.
3.4 Teknik Pengumpulan Data
Data primer dihimpun melalui seperangkat instrumen (kuesioner) terstruktur baik untuk sampel KSP/USP Koperasi maupun untuk responden anggota dan non anggota koperasi, melalui observasi dan wawancara mendalam (observation and in-depth research).


3.5 Metode Analisis
Semua data dianalisis dengan metode deskripstif dan metode statistik inferensial. Hasil kajian yang disajikan disini hanya meliputi analisis pengaruh (Effect Analysis) yaitu evaluasi pengaruh program terhadap kinerja KSP/USP Koperasi (sebagai lembaga intermediary) dan target groups (beneficiaries) yaitu anggota dan non anggota koperasi. Analisis dibatasi kepada aspek
(a) kinerja umum berdasarkan Pedoman Klasifikasi Koperasi, dan
(b) evaluasi Pengelolaan dan Pemanfaatan Dana Bergulir dengan metode before and after perguliran
dana pada beberapa variabel dinamika seperti jumlah dana yang diterima dan disalurkan. Berbagai dinamika tersebut diukur melalui Statistical Packages for Social Sciences (SPSS) versi 10, pada sejumlah cuplikan (contoh) secara berpasangan (paired) dan tidak berpasangan (independent)

Program dana bergulir dengan pola PKPS-BBM dan pola Agribisnis, umumnya dilaksanakan oleh KSP/USP Koperasi berklasifikasi A, sedangkan pola Syariah oleh KSP/USP Koperasi kelas B. Untuk semua pola, tidak ditemukan perbedaan nyata dalam ragam umur KSP/USP Koperasi contoh (sekitar 5-8 tahun), dan tampaknya pengalaman dalam melayani anggota/nasabahnya relatif seragam. Jumlah anggota KSP/USP Koperasi contoh dengan pola PKPS-BBM dan Agribisnis relatif lebih tinggi (antara 156-165 anggota) dibandingkan dengan KSP/USP contoh pola Syariah (sekitar 53 orang). Perbedaan ini ditengarai karena plafond bantuan dana per anggota yang dilayani pada pola Agribisnis lebih tinggi dibandingkan dengan kedua pola lainnya. Jumlah anggota yang dilayani KSP/USP Koperasi contoh (semua pola) selama tiga tahun terakhir hampir seragam (antara 123-150anggota/nasabah). Terdapat kecenderungan, KSP/USP Koperasi contoh pola Agribisnis mampu melayani anggota lebih banyak dibandingkan dengan koperasi lainnya. Menarik pula disimak, bahwa tingkat tunggakan anggota/nasabah pada KSP/USP Koperasi pola Syariah relatif lebih tinggi dibandingkan dengan kedua pola lainnya. Diduga kapabilitas manajemen KSP/USP Koperasi pola Syariah menjadi salah satu penyebabnya.
Dari sisi jenis kegiatan produksi, ditemukan adanya keragaan yang hampir serupa dalam hal
nasabah/anggota yang dilayani KSP/USP Koperasi contoh pola PKPS- BBM dan Syariah pola PKPS-BBM dan Syariah.
Proses Impelementasi Program Dana Bergulir Kepada KSP/USP Koperasi Efektivitas proses penyaluran dan penerimaan bantuan perkuatan program dana bergulir dievaluasi berdasarkan variabel penilai dalam petunjuk pelaksanaan (Juklak) dan petunjuk teknis (Juknis) program dana bergulir. Dalam hal persepsi terhadap proses seleksi calon KSP/USP koperasi contoh, e” 50 persen menyatakan telah berlangsung dengan baik, sangat baik ± 35 persen dan hanya sebagian kecil yang menilai tidak cukup baik. Persepsi seleksi ini memperllihatkan bahwa manfaat yang baik dari proses seleksi berkorelasi positif dengan kualitas efek program perkuatan, seperti proses pencairan dana, pendampingan, penyaluran, tenaga pendamping, monitoring dan evaluasinya.
Efektivitas proses pencairan dan penyaluran dana oleh bank pelaksana. Secara umum (> 70 persen) dinyatakan baik, sangat baik (20 persen) dan hanya sebagian kecil (< 5 persen) yang menganggap kurang baik. Hasil ini sangat mendukung aktivitas usaha anggota/non anggota di bidang pertanian yang sangat akrab dengan perubahan iklim. Sebab, bila pencairan dana sangat terlambat akan berdampak buruk kepada kinerja produksi yang pada gilirannya akan mempersulit proses pengembalian dana.
Efektivitas proses pendampingan yang diterima KSP/USP koperasi contoh. Proses ini, umumnya dinilai telah berlangsung dengan baik (> 50 persen) bahkan sangat baik( 6-7 persen), selebihnya cenderung menilai kurang baik dan sangat buruk. Ilustrasi ini menegaskan bahwa proses pendampingan sangat dibutuhkan untuk ’mengawal’ proses perguliran kepada KSP/USP Koperasi. Sebab, masih banyak informasi yang mengungkap adanya proses pendampingan yang belum berjalan secara baik (dalam hal frekuensi dan kualitasnya), terutama di daerah luar Pulau Jawa dan di daerah remote. Tampaknya, inilah critical point yang perlu diprioritaskan di masa mendatang. Khusus mengenai efektivitas proses monitoring dan evaluasi, ditemukan 50 persen menyatakan telah dilaksanakan dengan baik dan d”10 persen sangat baik. Walaupun demikian, masih terdapat penilaian (<10 persen) bahwa proses ini belum dilaksanakan dengan baik. Resume evaluasi proses penyaluran dan penerimaan bantuan (semua pola) menggunakan analisis statistik non parametrik sebagai alat ukur kuantitatif pada data ordinal. Dalam hal ini digunakan analisis independen pada sejumlah cuplikan dengan uji Kruskall Wallis (K-W) dan analisis Median, serta uji signifikansi Chi Square.
Dinamika Kegiatan Bantuan Perkuatan Dana Pada KSP/USP Koperasi
Pada prinsipnya, dinamika kegiatan tercermin dalam aspek manajemen KSP/ USP Koperasi ketika mengelola dan menyalurkan dana bantuan perguliran d e n g a n  me n c a k u p   e f e k  ma n a j e r i a l ,   t e k n i s ,   d a n   f i n a n s i a l / e k o n omi , ketenagakerjaan. Dari aspek ketepatan waktu, dinamika penyaluran dana penyaluran ke KSP/USP Koperasi ditemukan relatif baik, hanya < 10 persen KSP/USP Koperasi yang menyatakan kurang baik, atau tidak sesuai dengan perencanaan. Berkenaan dengan dinamika ketepatan jumlah dana yang disalurkan ke KSP/USP Koperasi pada umumnya dinilai relatif baik, dan < 10 persen yang menyatakan jumlah dana perkuatan tidak sesuai dengan perencanaan semula.  Jika anal isis diseparasikan berdasarkan pola pergulirannya, ternyata penyaluran dana pada pola Agribisnis relatif lebih tepat waktu dibandingkan dengan kedua pola lainnya, meski secara keseluruhan ditemukan tidak berbeda nyata. Selanjutnya, dari sisi dinamika keragaan ketepatan sebaran dana, umumnya ditemukan relatif baik, meski tidak sebaik dalam hal ketepatan waktu dan jumlah. Ketepatan sebaran dana pada pola PKPS-BBM dan Agribisnis ditemukan relatif lebih baik dibandingkan dengan pola Syariah.
peran variabel independen guna menjelaskan perilaku variabel dependen cukup baik. Hal ini tercermin pada nilai koefisien determinasi yang cukup besar, yaitu sekitar 52 persen (R = 52). Variabel manfaat seleksi ternyata menjadi satu-satunya penjelas perilaku kesesuaian mekanisme penyaluran dan penerimaan dana perguliran bagi KSP/USP Koperasi penerima program perguliran. Artinya, jika efek program diharapkan lebih baik di masa mendatang, maka penyaluran dan penerimaan dana harus dirancang dan dilaksanakan sesuai dengan mekanisme yang telah dituangkan dalam Juklak dan Juknis. Adapun variabel boneka (dummy) penjelas pola perguliran PKPS-BBM memberi sinyal nyata adanya perbedaan perilaku pada pola perguliran Agribisnis.
Dapat pula disebutkan bahwa pola perguliran PKPS-BBM oleh KSP/USP Koperasi relatif lebih baik dalam hal pelaksanaan mekanisme penyaluran dan penerimaan dana, dibandingkan dengan pola Agribisnis. Akan halnya pola Syariah, tampaknya tidak mempunyai perilaku yang berbeda dalam pelaksanaan mekanisme penyaluran dan penerimaan dana dengan pola lainnya.





Kesimpulan
Program pola perkuatan dana melalui pola perguliran pada dasarnya adalah suatu upaya kelembagaan (institutional building) yang dilakukan oleh pemerintah dalam rangka meningkatkan kinerja usaha UKM/anggota KSP/USP Koperasi. Hal ini sekaligus untuk meningkatkan kinerja KSP/USP Koperasi sebagai lembaga intermediasi dalam program perguliran dana. Dalam kerangka yang lebih luas, program ini diharapkan menjadi inisiasi dan  trigger untuk mengembangkan perekonomian wilayah melalui aktivitas ekonomi produktif sesuai dengan keunggulan komparatif dan kompetitif wilayah bersangkutan.
Secara teoritis, dalam kerangka kelembagaan, aturan main (rules of the game) dan aturan representasi (rules of the representation) sangat perlu dituangkan dalam bentuk petunjuk program perguliran dana. Aspek-aspek penting di dalam aturan tersebut harus senantiasa dikaitkan dengan nilai-nilai keadilan sebagai prasyarat kecukupan (sufficient condition, selain nilai-nilai efisiensi sebagai prasyarat keharusan (necessary conditon). Nilai keadilan sebagai prasyarat pokok keberhasilan program, dapat diuji dengan pertanyaan :
(a) apakah sumberdaya program perguliran untuk usaha anggota koperasi/UKM telah
terdistribusi secara adil;
(b) apakah aturan main telah mencerminkan distribusi program secara adil;
(c) apakah akses terhadap peluang KSP/USP untuk ikut serta dalam program telah terdistribusi secara adil, dan
(d) apakah peluang UKM/anggota koperasi telah terdistribusi secara adil pula.
Memang tidak mudah menelaah aspek-aspek nilai tersebut secara kuantitatif, namun kajian
ini telah berusaha mengevaluasi seluruh bangunan kelembagaan program perguliran. Telaahan dilakukan mulai dari bentuk konsep, pelaksanaan hingga pengaruh program, sesuai dengan batasan-batasan yang ada. Beberapa indikator telah dapat dipergunakan sebagai bahan pertimbangan dalam merumuskan kebijakan untuk pengembangan KSP/USP Koperasi. Program dana bergulir saat ini telah berkembang pada aspek jumlah maupun keragaman disain modelnya. Semula program ini lebih bersifat sosial, kemudian dikembangkan menjadi program dana bergulir dengan mengatur penggunaan maupun pengembaliannya. Metodenya telah diarahkan pada sasaran pemenuhan permodalan secara bergulir agar terdistribusi lebih merata calon peserta lainnya. Komponen dalam struktur organisasi kelembagaan program dana bergulir saat ini adalah :
(a) lembaga sumberdana perguliran;
(b) pelaksana dan penanggungjawab kegiatan dana bergulir;
(c) bank pelaksana;
(d) fasilitator/ pendamping anggota koperasi/UKM penerima bantuan dana bergulir;
(e) KSP/ USP Koperasi sebagai lembaga intermediasi yang menerima dan menyalurkan dana bergulir;
(f) Kelompok Kerja (Pokja) tingkat Provinsi dan tingkat Kabupaten/Kota yang berfungsi menetapkan peserta perguliran, mengawasi dan menilai kesehatan usaha KSP/USP Koperasi dan hal-hal teknis lainnya.
Disain struktur kelembagaan program seperti ini, biasanya menghadapi masalah klasik, yaitu :
(1) Efektivitas aspek-aspek pemantauan, evaluasi dan pelaporan dalam aplikasi program dana bantuan bergulir, terutama sejak saat dana dialokasikan/ dicairkan kepada penerima manfaat program;
(2) Efektivitas pengendalian dan pengambilan tindakan oleh pembina (pemerintah) dalam menerapkan sanksi akibat penyimpangan yang terjadi, karena seringkali belum tersedia disain korektif untuk memperbaiki kinerja dari KSP/USP Koperasi yang kurang berhasil.
(3) Efektivitas fungsi pendampingan, bagi KSP/USP Koperasi, anggota koperasi/UKM penerima manfaat bantuan dana bergulir. Dalam hal ini termasuk aspek pengendalian, pengawasan dan evaluasi operasional pada proses perguliran.
(4) K e l emb a g a a n   y a n g   b e r s i f a t   p r o y e k   (p r o j e c t   b a s e d) ,   umumn y a menimbulkan masalah tambahan bagi pelestarian program (program sustainability), sehingga dampaknya seringkali membuat tambahan kesulitan khususnya kalau dikaitkan dengan upaya menjaga konsistensi aplikasi disain kebijakan dan arah bantuan perkuatannya.
(5) Lemahnya pengaturan administrasi dalam pengembalian dana bergulir yang seringkali  menumbuhkan kesulitan dalam proses second stage of revolving yaitu pengumpulan kembali dana bergulir yang telah tersebar ini secara aman, cepat dan tertib, dan tepat waktu. Tampaknya diperlukan rancang bangun kelembagaan yang lebih mantap dari struktur dan proses yang ada pada saat ini.
Secara umum temuan lapang mengindikasikan beberapa hal sebagai berikut :
-          Informasi secara acak dari beberapa orang anggota/nasabah menyatakan bahwa
bantuan dana telah dirasakan sebagai peluang untuk memperkuat modal usaha.
-          Pembinaan oleh bank pelaksana melalui proses pendampingan dan
monitoring, walau telah dirumuskan ternyata belum dilakukan dengan baik sesuai petunjuk normatifnya. Beberapa faktor penyebab di antaranya adalah mekanisme tanggungjawab, prosedur dan materi bimbingan oleh bank pelaksana tidak termonitor oleh Pokja Keuangan Kabupaten/Kota. Dalam memfasilitasi program dana bergulir, bank pelaksana tampaknya harus melabelkan diri sebagai “konsultan” KSP/USP Koperasi. Sedangkan pembinaan itu memerlukan effort yang tidak mudah dan beban biaya yang tidak ringan. Hal ini mengingat keragaman kinerja dan prestasi KSP/USP Koperasi terpilih, serta sebaran wilayah KSP/USP Koperasi yang secara lokasional sangat luas. Selanjutnya, masih terdapat perbedaan persepsi mengenai lingkup pembinaan oleh bank pelaksana. Di satu sisi, bank pelaksana beranggapan hanya terlibat pada awal perguliran. Di sisi lain, pembinaan dirancang dengan mencakup seluruh aspek manajemen, termasuk pengembangan kelembagaan dan sumberdaya manajerialnya.
Program pendampingan belum berlangsung sebagaimana dimaksud dalam Juknis, terutama di daerah luar Pulau Jawa dan wilayah remote, sehingga praktis proses pengembangan kapasitas dan potensi KSP/USP Koperasi tidak ditemukan.
Pada program tahun 2003 dan 2004, untuk pola PKPS-BBM dan Syariah, perguliran dana hanya sebesar Rp. 50 juta sehingga tidak sesuai dengan kompleksi tas usaha UKM  (pada program 2005  jumlahnya  telah ditingkatkan menjadi sebesar Rp. 100 – Rp. 150 juta). Sistem administrasi pembukuan simpan pinjam belum sepenuhnya diaplikasikan dengan tertib sehingga perlu menjadi perhatian dalam proses pembinaan dan pendampingan di masa mendatang.
Output program dana bergulir dari pola PKPS-BBM tahun 2003–2004 relatif kurang memenuhi harapan dibandingkan dengan dua pola lainnya, termasuk mengenai ketidaktepatan pihak yang dilayani (anggota dan non anggota), sistem dan disain administrasinya. Bentuk ketertiban yang diharapkan sulit ditemukan, karena umumnya pelayanan dilakukan lebih berbentuk layanan harian. Sementara untuk pola Syariah, walaupun pinjaman dana umumnya dapat kembali, namun mekanisme penetapan nasabah dan pembuatan akad masih secara sepihak atau bahkan tanpa akad tertulis. Oleh karena itu, program pendampingan harus mencakup aktivitas tranformasi dari bentuk konvensional harus dengan sesuai konsep Syariah.
Berdasarkan hasil analisis evaluasi, kajian ini berhasil mengungkapkan beberapa resume permasalahan untuk analisis kebijakan sebagai berikut :
(1) Pada tataran output-effects delivery system.
Masalah utama dan kritis adalah menyangkut efektivitas proses dan kinerja tenaga pendampingan, proses monitoring dan evaluasi, efektivitas pencairan dan penyaluran dana perguliran bagi KSP/USP penerima perguliran. Masalah lain adalah proses seleksi KSP/USP Koperasi calon penerima dana perguliran, sosialisasi manfaat program seleksi bagi para pengurus/pembina KSP/USP Koperasi, bahkan para pembina di berbagai tingkatan (pusat dan daerah) serta masyarakat dan anggota koperasi calon penerima manfaat perguliran dana.
Efektivitas proses dan kinerja tenaga pendamping masih relatif rendah terutama dalam hal proses monitoring dan evaluasi dana perguliran. Masih terdapat kekurang sempurnaan dalam hal prosedur dan pelaksanaan seleksi KSP/USP Koperasi serta sosialisasi kemanfaatan kredit bagi KSP/ USP Koperasi dan anggota dan masyarakat.
(2) Pada tataran effects-impacts delivery system :
Masalah utama terkait dengan proses penyaluran dana perguliran yang kurang sesuai dengan mekanisme yang telah ditetapkan dalam Juklak perguliran dana. Proses penyaluran dana seringkali tidak tepat sebaran, baik sebaran waktu pencairan dana maupun sebaran jumlah dana yang dicairkan.
Daftar Pustaka
Alhusin, S. 2003. Aplikasi Statistik Praktis dengan SPSS 10 for Windows. Edisi Revisi.
Penerbit Graha Ilmu, Yogyakarta.
Anonim,  2005. Rencana Tindak Jangka Menengah (RTJM) Pemberdayaan Koperasi
dan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah Tahun 2005-2009.
_______, 2005. Peraturan Presiden No.7 Tahun 2005 Tentang Rencana Pembangunan
Jangka Menengah 2004-2009.
_______, 2002.  Pembangunan Sistem Agribisnis Sebagai Penggerak Ekonomi
Nasional, Departemen Pertanian, Jakarta.
_______, 2003. Ekonomi Kerakyatan Dalam Kancah Globalisasi. Kantor Kementerian
Koperasi Usaha Kecil dan Menengah.
_______,  2002. Pengukuran Analisis Ekonomi dan Keuangan Tingkat Kinerja Investasi
Usaha Kecil dan Menengah pada Beberapa Sentra/Klaster.Kerjasama Kementerian
Koperasi dan UKM dengan Badan Pusat Statistik (BPS), Jakarta.
_______, 2002. Pengukuran Analisis Ekonomi Kinerja UKM dalam hal Pembentukan
Modal Tetap Bruto (Investasi) Nasional Tahun 2002. Kerjasama Kementerian
Koperasi dan UKM dengan BPS, Jakarta.
_______, 2001. Pengukuran dan Analisis Ekonomi Kinerja Penyerapan Tenaga Kerja,
Nilai Tambah dan Ekspor UKM serta Peran Terhadap Tenaga Kerja Nasional dan
PDB Menurut Harga Konstan dan Harga Berlaku. Kerjasama Kementerian Koperasi
dan UKM dengan BPS, Jakarta.
Arief, Sritua., 1997. Pembangunan dan Ekonomi Indonesia: Pemberdayaan Rakyat
dalam Arus Globalisasi. CPSM, Bandung.
Arifin, B. 2004. Menterjemahkan Keberpihakan Terhadap Sektor Pertanian: Suatu Telaah
Ekonomi Politik. Dalam Rudi Wibowo dkk (Ed)., Rekonstruksi dan Restrukturisasi
Pertanian. PERHEPI, Jakarta.
Departemen Pertanian, 2002.  Penjabaran Program dan Kegiatan Pembangunan
Pertanian 2001-2004.  Departemen Pertanian, Jakarta.
Fadhil Hasan, dkk. 2005. Indonesia 2005: Perekonomian Di Tampuk Saudagar dan
Proyeksi Ekonomi 2006. INDEF, Jakarta.
Korten, David C., 1980, Community Organization and Rural Development : A Learning
Process Approach, dalam Public Administration Review, No. 40, 1980.
Krisnamurthi, B., 2003. Analisis Grand Strategy Pembangunan Pertanian: Pembangunan
Sistem dan Usaha Agribisnis dan Implementasi Pembangunan Pertanian.
Makalah,  disampaikan pada Lokakarya Penyusunan Evaluasi  Kiner ja
Pembangunan Pertanian. Jakarta, 10-11 Desember 2003.
Kuncoro, M. 2001. Metode Kuantitatif. Teori dan Aplikasi Untuk Bisnis dan Ekonomi.
Penerbit UPP AMP-YKPN, Yogyakarta.
Pakpahan, 2004. Petani Menggugat. Max Havelaar Ind. dan GAPPERINDO, Jakarta.
Rudi Wibowo., 1999. Refleksi Teori Ekonomi Klasik Dalam Manajemen Pemanfaatan
Sumberdaya Pertanian Pada Milenium Ketiga. Dalam Refleksi Pertanian Tanaman
pangan dan Hortikultura. Pustaka Sinar Harapan, Jakarta.
__________., 2001. Mewujudkan Visi Agribisnis Berdaya Saing Melalui Pembangunan
Wilayah Yang Selaras Dengan Alam. Orasi Ilmiah Guru Besar Ekonomi Pertanian
Universitas Jember. Jember, 12 Nopember 2001.
___________. 1999. Etika Pembangunan Sumberdaya Pertanian Menuju Pembangunan
Berkelanjutan. Dalam Rudi Wibowo (ed). 1999. Refleksi Pembangunan Pertanian
Tanaman Pangan dan Hortikultura Nusantara. Penerbit Sinar Harapan, Jakarta.
___________, 2000. Perspektif Manajemen Pembangunan Pertanian Indonesia. Jurnal
Agribisnis Vol. IV No 1 Januari-Juni 2000. JUBC, Pusat Bisnis Universitas Jember.
___________, Bayu Krisnamurthi dan Bustanul Arifin., (ed). 2004. Rekonstruksi dan
Restrukturisasi Pertanian. Beberapa Pandangan Kritis Menyongsong Masa Depan.
PERHEPI, Jakarta.
Saragih, B. (2000). Karakteristik Agribisnis dan Implikasinya Bagi Manajemen Agribisnis.
Jurnal Agribisnis Vol. IV No 1 Januari-Juni 2000. JUBC, Pusat Bisnis Universitas Jember.
Soetrisno, 2003. Menuju Pembangunan Ekonomi Berkeadilan Sosial. STEKPI, Jakarta.
___________, 2003a. Kewirausahaan Dalam Pengembangan UKM di Indonesia. Dalam:
Ekonomi Kerakyatan Dalam Kancah  Globalisasi. Kantor Kementerian Koperasi
Usaha Kecil dan Menengah.
___________,  2001. Rekonstruksi Pemahaman Koperasi. Merajut Kekuatan Ekonomi
Rakyat. INTRANS, Jakarta.
___________, 2002. Pengembangan Ekonomi Daerah Pembiayaan & Investasi, Jakarta.
Tri Hendardi, C. 2005. Step By Step SPSS 13 Analisis Data Statistik. Penerbit Andi,
Yogyakarta.
World Bank Brief for the Consultative Group on Indonesia; Indonesia Maintaining Stability,
Deepening Reforms, January 2003 .

Ukuran Daya Saing Koperasi dan UKM


REVIEW JURNAL

Nama Kelompok:
Nuryana                                               25210226
Shinta Nur Amalia                            26210523
Yusuf  Fadillah                                   28210800
Yoga Wicaksana                                 28210647
Crishadi Juliantoro                           21210630

UKURAN DAYA SAING KOPERASI DAN UKM
Abstrak
Tujuan utama dari tulisan ini adalah untuk mengidentifikasi variabel-variabel atau indikatorindikator yang tepat untuk digunakan sebagai pengukur daya saing UKM dan Koperasi di Indonesia. Beberapa hasil penting dari tulisan ini adalah sebagai berikut. Pertama, daya saing sebuah perusahaan tercerminkan dari daya saing dari produk yang dihasilkan oleh perusahaan tersebut. Sedangkan, daya saing dari perusahaan tersebut ditentukan oleh banyak faktor, tujuh diantaranya yang sangat penting adalah: keahlian atau tingkat pendidikan pekerja, keahlian pengusaha, ketersediaan modal, sistem organisasi dan manajemen yang baik (sesuai kebutuhan bisnis),ketersediaan teknologi, ketersediaan informasi, dan ketersediaan input-input lainnya seperti enerji, bahan baku, dll. Kedua, indikator-indikator utama daya saing produk adalah antara lain pangsa ekspor, pangsa pasar luar negeri dan dalam negeri, nilai/harga produk, dan kepuasan consumen; sedangkan indikator-indikator utama daya saing perusahaan adalah antara lain, profit, sumber daya manusia (SDM),  pengeluaran R&D, dan jenis teknologi yang digunakan. Ketiga, pendorong utama daya saing perusahaan adalah SDM  (pekerja dan pengusaha), dan prasyarat utama untuk meningkatan daya saing perusahaan adalah pendidikan, modal, teknologi, informasi, dan input krusial lainnya. Tulisan ini merekomendasikan dua hal utama. Pertama, bantuan yang diberikan pemerintah selama ini harus berubah orientasinya dan sepenuhnya tertuju  pada upaya peningkatan kemampuan teknologi produksi, manajemen dan pemasaran dengan fokus utama pada capacity building dengan inovasi sebagai motor penggerak utama. .Kedua, pendekatan strategi untuk mendukung kebijakan tersebut adalah clustering
I.1 Latar Belakang
Dari perspektif dunia, sudah diakui bahwa usaha kecil dan menengah (UKM) memainkan suatu peran yang sangat vital di dalam pembangunan dan pertumbuhan  ekonomi, tidak hanya di negara-negara sedang berkembang (NSB) tetapi juga di negara-negara maju (NM). Di NM, UKM  sangat penting tidak saja karena kelompok usaha tersebut menyerap paling banyak tenaga kerja tetapi juga di  banyak negara kontribusinya terhadap pembentukan atau pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) paling besar dibandingkan kontribusi dari usaha besar (UB). Di dalam disertasinya Piper (1997), misalnya, dikatakan bahwa sebanyak 12 juta orang atau sekitar 63,2 persen dari jumlah tenaga kerja di Amerika Serikat (AS) bekerja di 350.000 perusahaan yangmengerjakan kurang dari 500 orang, yang di negara tersebut dianggap sebagai UKM. Menurut Aharoni (1994), jumlah UKM sedikit di atas 99% dari jumlah unit usaha di negara adidaya tersebut. Perusahaan-perusahaan tersebut merupakan inti dari basis industri di AS (Piper, 1997). UKM juga sangat penting di banyak negara di Eropa, khususnya Eropa Barat. Di Belanda, misalnya, jumlah UKM sekitar  95% dari jumlah perusahaan di negara kicir angin tersebut (Bijmolt dan Zwart, 1994).  Namun, dilihat dari sumbangannya terhadap pembentukan PDB dan ekspor non-migas, khususnya produk-produk manufaktur, peran UKM di NSB masih relatif rendah, dan ini sebenarnya perbedaan yang menyolot dengan UKM di NM. Pertanyaannya evaluasi yang komprehensif terhadap kinerja koperasi di dalam perekonomian nasional sangat sulit. Namun demikian, dari sekian banyak tulisan di media masa, ada satu gambaran  yang jelas bahwa kinerja koperasi di Indonesia selama ini memang relatif buruk.Di sisi lain, cukup banyak literatur mengenai kinerja koperasi di NM, khususnya di AS dan sejumlah negara di Eropa yang semuanya menunjukkan kinerjanya sangat bagus. Bahkan banyak koperasi di misalnya AS yang memiliki omset sangat besar dan merupakan pesaing besar terhadap perusahaan non-koperasi.
II.Kerangka Pikiran
II.1 Identifikasi karakteristik koperasi dan UKM yang berdaya saing yang diinginkan;
Daya saing adalah sebuah konsep yang cukup ruwet. Tidak ada satu indikator-pun yang bisa digunakan untuk mengukur daya saing, yang memang sangat sulit untuk diukur (Markovics, 2005). Namun demikian, daya saing adalah suatu konsep yang umum digunakan di dalam  ekonomi, yang biasanya merujuk kepada komitmen terhadap persaingan pasar dalam kasus perusahaan-perusahaan dan keberhasilan dalam persaingan internasional dalam kasus negara-negara. Dalam dua dekade terakhir, seiring dengan semakin mengglobalnya perekonomian dunia dan persaingan bebas, daya saing telah menjadi satu dari konsep-konsep kunci bagi perusahaanperusahaan, negara-negara, dan wilayah-wilayah untuk bisa berhasil dalam partisipasinya di dalam globalisasi dan perdagangan bebas dunia, seperti yang dikatakan berikut ini  on micro level the concept of competitiveness means the skill of position gain and self-maintainment in the market competition among companies, each other’s competitors and – in respect of macro economy – among national economies (Lengyel 2005, dikutip di Markovics, 2005)   Dengan memakai konsep daya saing, Man dkk. (2002) membuat suatu model konsepsual untuk menghubungkan karakteristik-karakteristik dari manager  atau pemilik UKM dan kinerja perusahaan jangka panjang. Model konsepsual untuk daya  saing UKM tersebut terdiri dari  empat elemen: skop daya saing perusahaan, kapabilitas organisasi dari perusahaan, kompetensi pengusaha/pemilik usaha, dan kinerja.
Hubungan antara kompetensi dan tiga elemen lainnya itu merupakan inti dari model tersebut, dan hubungan itu dapat dihipotesakan kedalam tigatugas prinsip pengusaha:
(a) membentuk skop daya saing
(b) menciptakan kapabilitas organisasi
(c) menetapkan tujuan-tujuan dan mencapainya.
Menurut studi ini, daya saing memiliki karakteristik, yakni potensi, proses. Selain tiga karakteristik tersebut, daya saing juga dicirikan oleh orientasi jangka panjang, kontrolabilitas,  relativitas, dan dinamika. Selain itu, studi ini menunjukkan bahwa ada tiga aspek penting yang mempengaruhi daya saing UKM, yakni:
(1) faktor-faktor internal perusahaan;
(2) lingkungan eksternal; dan
(3) pengaruh dari pengusaha/pemilik usaha.
Selanjutnya, di dalam penelitian  ini, pengaruh dari pengusaha tersebut di tangani dengan pendekatan kompetensi dari sebuah proses atau perspektif perilaku. Dengan memakai hasil studi tersebut sebagai salah satu input, tulisan ini menyusun suatu kerangka pemikiran mengenai daya saing sebuah UKM sebagai berikut (Gambar 1). Daya saing sebuah perusahaan tercerminkan dari daya saing dari produk yang dihasilkan oleh perusahaan tersebut. Dalam gilirannya, daya saing dari perusahaan tersebut ditentukan oleh banyak faktor, tujuh diantaranya yang sangat penting adalah: keahlian atau tingkat pendidikan pekerja, keahlian pengusaha, ketersediaan modal, sistem organisasi dan manajemen yang baik (sesuai kebutuhan bisnis), ketersediaan teknologi, ketersediaan informasi, dan ketersediaan input-input lainnya seperti enerji, bahan baku, dll.  Dua faktor pertama tersebut adalah aspek sumber daya manusia (SDM), yang mana, keahlian pekerja tidak hanya dalam teknik produksi (antara lan disain produk dan proses produksi), tetapi juga teknik pemasaran dan dalam penelitian dan pengembangan (R&D). Sedang keahlian pengusaha terutama adalah wawasan bisnis, dan yang dimaksud di sini adalah wawasan mengenai bisnisnyadan juga lingkungan eksternalnya.pengusaha yang luas juga sangat penting bagi inovasi, dan bukan lagi rahasia umum bahwa inovasi merupakan kunci utama daya saing. Bahkan banyak literatur menyatakan bahwa banyak faktor yang menentukan kemampuan UKM melakukan inovasi, diantaranya adalah  kreativitas pengusaha, dan  yang terakhir ini, pada gilirannya, ditentukan oleh wawasannya mengenai bisnis yang ditekuninnya (Shahid, 2007).

Sebagai ilustrasi empiris, data BPS dapat memberikan gambaran mengenai tingkat pendidikan formal (yang umum digunakan sebagai indikator tingkat keahlian) dari pengusaha di UKM di sektor industri manufaktur (Tabel 1). Dapat dilihat bahwa jumlah pengusaha UKM yang memiliki diploma universitas hanya sekitar 2,20 persen; walaupun tingkat ini bervariasi antara usaha kecil (UK) dan usaha menengah (UM). Ini bisa merupakan salah satu penyebab rendahnya kinerja atau daya saing UKM di Indonesia.

ketersediaan atau penguasaan teknologi. Hipotesanya adalah sebagai berikut: perusahaan dengan daya saing tinggi adalah perusahaan yang memiliki/menguasai teknologi yang paling baik (yang biasanya adalah teknologi terakhir yang ada) di dalam bidangnya. Aspek ini bisa diidentifikasi  dengan sejumlah indikator, diantaranya yang umum digunakan dan lebih bersifat proxy adalah tingkat produktivitas. Perusahaan berdaya saing tinggi biasanya juga merupakan perusahaan yang produktif
Sudah banyak literatur mengenai UKM di NSB yang menunjukkan bahwa salah satu ciri dari UKM adalah rendahnya tingkat produktivitas di kelompok usaha tersebut.Data BPS mengenai industri manufaktur menurut skala usaha juga menunjukkan hal yang sama: tingkat produktivitas tenaga kerja cenderung meningkat menurut skala usaha. Seperti yang dapat dilihat di Tabel 2, rasio output terhadap tenaga kerja di UK (termasuk usaha mikro) jauh lebih rendah dibandingkan di UM dan UB

. Perusahaan yang
mampu melakukan inovasi, dalam produk, proses produksi, organisasi, manajemen, sistem pemasaran, dan
aspek-aspek bisnis lainnya, dapat dipastikan adalah perusahaan yang memiliki daya saing yang tinggi. Namun tidak gampang mengidentifikasi secara langsung perusahaan-perusahaan yang melakukan inovasi, apalagi inovasi dalam proses produksi atau marketing. Oleh karena itu ada sejumlah alat ukur yang dapat digunakan, dua diantaranya yang umum dipakai karena mudah menerapkannya selama ada data, adalah jumlah sertifikat menyangkut inovasi (misalnya ISO) yang dimiliki oleh sebuah perusahaan, dan pengeluaran R&D. di Indonesia sama sekali tidak menerapkan sistem organisasi dan manajemen yang umum diterapkan di dalam dunia bisnis modern. Banyak UK di mana pengusaha mengerjakan semua kegiatan: produksi, pengadaan bahan baku, pemasaran, dan administrasi, dan tidak menerapkan pembukuan, atau kalau ya, dengan cara yang primitif.
II.2 Identifikasi Ukuran-ukuran Daya Saing bagi Koperasi dan UKM
Seperti telah dibahas sebelumnya (lihat Gambar  1), dalam mengukur daya saing koperasi dan UKM, harus dibedakan antara daya saing dari produk dan daya saing dari perusahaan. Tentu, daya saing dari produk terkait erat (atau mencerminkan) tingkat daya saing dari perusahaan yang menghasilkan produk tersebut. Indikator-indikator yang umum digunakan untuk mengukur daya saing sebuah produk dijabarkan di Tabel 4. Ini adalah indikator-indikator dasar, dan selanjutnya dari sini bisa dihitung sejumlah rasio yang umum digunakan di dalam penelitian-penelitian empiris mengenai  daya saing di dalam perdagangan  internasional, seperti misalnya revealed comparative advantage (RCA), constant market share, similarity index, complementarity index, export product dynamics, dan banyak lagi. Menurut  Long (2003), kemampuan SMEs untuk melakukan ekspor juga merupakan salah satu faktor yang krusial dalam mengukur daya saing globalnya.


II.3 Prasyarat dan Strategi Pencapaian Daya Saing Yang Tinggi
Di kelompok usaha ini, pengusaha akan selalu berperan penting, karena pada umumnya pengusaha atau pemilik usaha merupakan penggerak utama perusahaan. Ini artinya, kreativitas, spirit entrepreneurship dan jiwa inovatif dari pengusaha yang didukung oleh keahlian dari para pekerjanya adalah sumber utama peningkatan daya saing UKM.
Upaya peningkatan kemampuan produksi termasuk peningkatan kemampuan teknologi dan kemampuan disain. Sedangkan upaya peningkatan kemampuan pemasaran termasuk promosi, distribusi dan pelayanan  pasca penjualan. Kedua penekanan ini sangat penting, dan pada umumnya UKM di Indonesia kalah bersaing dengan UB atau UKM dari NM karena kurang memperhatikan atau kurang mampu di dalam dua bidang ini. UKM di Indonesia, paling tidak sebagian besar, bukan saja lemah dalam 20teknologi tetapi juga lemah atau kurang memberikan pertahian dalam strategi pemasaran. Padahal, banyak kasus, menunjukkan bahwa sebuah produk yang dilihat dari aspek teknologinya biasa-biasa saja, namun sangat laku hanya karena pemasarannya yang agresif
Salah satu yang umum disarankan di dalam literatur mengenai UKM adalah mengembangkan UKM yang kompetitif dengan pendekatan  clustering. Kerjasama internal yang erat antar sesama UKM di dalam sebuah klaster (atau sentra industri) dalam pemasaran, pengadaan bahan baku, R&D, dll. dan kerjasama eksternal antara klaster dengan pihak-pihak lain di luar klaster seperti  perbankan, lembaga R&D/universitas, BDS (business development services), departemen pemerintah, UB (misalnya lewat subcontracting), kadin, asosiasi bisnis, dll. akan menghasilkan keuntungan aglomorasi karena kerjasama seperti itu menghasilkan efisiensi yang tinggi, dibandingkan UKM yang beroperasi sendiri-sendiri. Sedangkan intervensi langsung adalah seperti yang telah banyak dilakukan pemerintah sejak Orde Baru hingga saat ini dalam upaya membantu UKM, mulai dari pemberian skim-skim kredit khusus hingga berbagai macam pelatihan.
III. Rekomendasi Kebijakan dan Program
Sejak era Orde Baru hingga sekarang sudah banyak sekali upaya pemerintah membantu perkembangan UKM dan koperasi dalam bentuk beragam program, mulai dari pemberian kredit murah hingga bantuan teknis. untuk meningkatkan daya saing global dari UKM dan koperasi di Indonesia, ketiga butir di atas harus berubah. Bantuan yang diberikan oleh pemerintah harus sepenuhnya  tertuju pada upaya peningkatan kemampuan teknologi’pengetahuan dalam produksi, manajemen dan pemasaran. Fokus dari bantuan harus pada capacity building dengan inovasi (dalam produksi, manajemen dan pemasaran) sebagai motor penggerak utama.  Untuk mendukung perubahan strategi ini, maka arah kebijakan pengembangan UKM dan koperasi di masa depan yang tujuan utamanya adalah meningkatkan daya saing dari UKM dan koperasi adalah seperti yang dijabarkan di Tabel 1.1

Kesimpulan
Jadi dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa lemahnya kinerja UKM dan koperasi di NSB pada umumnya dan di Indonesia pada khususnya adalah karena daya saing dari kedua kelompok usaha tersebut relatif rendah dibandingkan UB. Sedangkan alam era globalisasi dan perdagangan bebas saat ini dan di masa depan daya saing menjadi sesuatu yang sangat penting. Tanpa daya saing yang baik, tidak mustahil bahwa UKM maupun koperasi di Indonesia suatu saat akan lenyap. Dengan alasan ini, maka kebijakan promosi UKM di banyak negara, baik kebijakan nasional maupun kebijakan dari lembaga-lembaga donor seperti Bank Dunia (atau Bank Pembangunan Asia untuk wilayah Asia) dan UNDP, dalam beberapa tahun belakangan ini semakin fokus pada  peningkatan daya saing. Bahkan di APEC, kelompok kerja khusus UKM saat ini punya banyak program untuk membantu upaya UKM di negaranegara anggota untuk meningkatkan  daya saing mereka, terutama di  bidang-bidang seperti pengembangan sumber daya manusia (SDM), perluasan akses ke keuangan dan informasi, dan pengembangan teknologi.  Tujuan utama dari tulisan ini adalah untuk mengidentifikasi variabel-variabel atau indikator-indikator yang tepat untuk digunakan sebagai pengukur daya saing UKM dan Koperasi di Indonesia
Daftar Pustaka
Aharoni, Y. (1994), “How Small Firms Can Achieve Competitive Advantages in an Interdependent World”, dalam T. Agmon dan R. Drobbnick (ed.), Small Firms in Global Competition, New York: Oxford University Press.
Albaladejo M. dan Romijn, H. (2000), “Assessment of competitiveness and technological performance of small UK firms”, laporan mengenai the targeted socio-economic research  programme on the EU project SMEs in Europe and East Asia: competition, collaboration and lessons for policy support. European Union, DGXII.  \
Altenburg, T., Hillebrand, W, dan Meyer-Stamer, J. (1997), “Policies for building systemic  competitiveness: conceptual framework and case studies of Republic of Korea, Brazil, Mexico and Thailand”, makalah dipresentasikan dalam Seminar, “New Trends and Challenges in Industrial Policy”, UNIDO, Vienna, 16-17 October 1977.
APEC (2006), “A Research on the Innovation Promoting Policy for SMEs in APEC” Survey and Case Studies”, Desember, APEC SME Innovation Center, Korea Technology and Information Promotion Agency for SMEs, Seoul.
Badrinath, R. (1997), “The SME and the Global Market Place: An Analysis of Competitiveness Constraints”, Geneva: UNCTAD/WTO International Trade Centre.
Barnes, J. dan Morris, M. (1999), “Improving operational competitiveness through firm-level clustering: a case study of the KwaZulu-Natal benchmarking club”, makalah dipresentasikan dalam Konferensi ILO, “Responding to the challenges of globalisation: local and regional initiatives to promote quality employment”, Bologna: 19-21 May.
Bell, M dan Albu, M (1999) “Knowledge Systems and Technological Dynamism in Industrial Clusters in Developing Countries”, World Development, 27(9):1715-1734.
Berry, A. dan Levy, B. (1999), “Technical, Marketing and Financial Support for Indonesia’s Small and Medium Industrial Exporters”, dalam Levy, B. Berry, A. dan Nugent, J.B., Fulfilling the Export Potential of Small and Medium Firms, Boston, MA: Kluwer Academic Publishers.