Monday, November 7, 2011

PROYEKSI PENGEMBANGAN KEBUTUHAN WIRAUSAHA BARU DALAM RANGKA KESIAPAN MENUJU LIBERALISASI PERDAGANGAN DAN INVESTASI

PROYEKSI PENGEMBANGAN KEBUTUHAN WIRAUSAHA BARU DALAM RANGKA KESIAPAN MENUJU LIBERALISASI PERDAGANGAN DAN INVESTASI

REVIEW JURNAL

Nama Kelompok: 2eb09
Nuryana                                           25210226
Shinta Nur Amalia                            26210523
Yusuf  Fadillah                                  28210800
Yoga Wicaksana                               28210647
Crishadi Juliantoro                            21210630

PROYEKSI PENGEMBANGAN KEBUTUHAN WIRAUSAHA BARU
DALAM RANGKA KESIAPAN
MENUJU LIBERALISASI PERDAGANGAN DAN INVESTASI
ABSTRAK:
Kelompok kami mengkaji Penelitian ini bertujuan untuk menyusun proyeksi pengusaha baru di Indonesia tahun2004-2009, mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan pengusaha baru, dan mengetahui karakteristik dari pengusaha melakukan kegiatan usaha skala kecil. Penelitian ini dilakukan oleh menggunakan metode survei di 15 (lima belas) provinsi, yaitu Sumatera Utara, Riau,Selatan
Sumatera, Lampung, Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, Nusa dari
Barat Selatan-Timur, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan,
dan Papua. Obyek penelitian adalah faktor-faktor yang mempengaruhi jumlah pengusahabaru,
proyeksi jumlah pengusaha up baru [dari], tahun 2004-2009 dan karakteristik
pengusaha skala UKM di berbagai sektor bisnis. Pemilihan sampel
dilakukan dengan sampling cluster berdasarkan sektor usaha. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa:

1)      Proyeksi meringkas pengusaha baru untuk tahun 2004-2009menunjukkan bahwa
dalam kurun waktu lima tahun sampai jumlah peningkatan pengusaha baru tentang Unit5.187.527
skala kecil dan 17,226 unit skala menengah
2)       sektor bisnis yang paling potensial untuk
pengusaha baru dengan skala kecil perdagangan, hotel dan restoran, transportasi
dan komunikasi, dan pertanian, peternakan, kehutanan, perkebunan, dan perikanan;
3)       sektor bisnis yang paling potensial untuk mengembangkan wirausaha baru denganskala menengah
keuangan, sewa dan jasa perusahaan, perdagangan, hotel, dan restoran, dan juga
industri pengolahan
4)       faktor yang mempengaruhi untuk memperluas pengusaha baru
karakteristik usaha pengusaha (usia, jenis kelamin, dan tingkat pendidikan; legalitas
entitas, modal, target pemasaran, dan tenaga kerja); budaya dan juga karakteristik dari
pengusaha baru (memotivasi untuk mencoba; resistensi peluncuran keluar; dukunganditerima; dan peran pemerintah).
Pendahuluan:
1.1 Latar Belakang

Krisis ekonomi telah mengakibatkan pelaku usaha di Indonesia tertinggal 5-7 tahun dibandingkan dengan pelaku usaha negara lain. Kondisi ini mengakibatkan daya saing ekonomi nasional mengalami penurunan peringkat secara sangat signifikan. Hal ini disebabkan jumlah wirausaha di sektor industri pengolahan dan sektor usaha yang berbasis pengetahuan relatif masih sangat kurang, apabila dibandingkan dengan jumlah penduduk Indonesia.
Dalam rangka mengembangkan wirausaha baru yang berbasis pengetahuan dan teknologi, diperlukan pengembangan kewirausahaan terutama pada sektor ekonomi yang propspektif, perekayasaan budaya masyarakat yang mendukung kewirausahaan, penciptaan lingkungan usaha kondusif, dan dukungan perkuatan bagi lahirnya wirausaha baru yang berbasis pengetahuan dan teknologi. Kajian ini berupaya memetakan proyeksi jumlah wirausaha baru di setiap sektor ekonomi, termasuk di dalamnya upaya penumbuhannya.

1.2 Perumusan Masalah
Pokok masalah yang menjadi fokus kajian ini adalah seberapa banyak jumlah
wiausaha baru dapat dilahirkan dan bagaimana wirausaha lama dapat dikembangkan
agar dapat bersaing secara global.

1.3 Tujuan dan Manfaat
Kajian ini bertujuan untuk :
a. Menyusun proyeksi wirausaha Baru di Indonesia tahun 2004-2009;
b. Mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi penumbuhan wirausaha
baru;
c. Mengetahui karakteristik wirausaha yang melakukan kegiatan usaha skala
kecil.
Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat sebagai masukan dalam kebijakan
pemberdayaan UKM, khususnya yang berkaitan dengan penumbuhan wirausaha baru.

Kerangka Pemikiran

2.1. Tinjauan Pustaka
Kewirausahaan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kegiatan bisnis. Sedangkan wirausahawan adalah seseorang pengusaha yang jeli, ulet, hati-hati, dan terampil dalam menjalankan serta mengembangkan usahanya (Kao, 1989). Di sisi lain, Timmons (1978) memandang kewirausahaan sebagai tindakan kreatif atau suatu kemampuan melihat dan memanfaatkan peluang, bahkan pada saat semua orang tidak melihat adanya peluang. Dengan demikian, kewirausahaan adalah kesatuan terpadu dari semangat, nilai-nilai, prinsip, sikap, kiat, seni, dan tindakan nyata yang sangat perlu, tepat, dan unggul dalam menangani dan mengembangkan perusahaan atau kegiatan lain, yang mengarah pada pelayanan terbaik kepada pelanggan dan pihak-pihak lain yang berkepentingan, termasuk masyarakat, bangsa, dan negara.
Pengembangan kewirausahaan terkait erat dengan pengembangan UKM, mengingat wirausaha yang ada dan yang berpotensi dilahirkan di Indonesia, umumnya akan melalui tahapan skalaUKM, sebelum menjadi usaha berskala besar dan skala global. UKM menjadi sangat penting bagi pembangunan ekonomi bekelanjutan dan untuk menjadi ekonomi yang modern/maju. Kewirausahaan juga penting untuk pertumbuhan investasi langsung dari luar, membangun jejaring produksi regional dan memberikan kontribusi kepada pertumbuhan domestik dan kawasan. Terdapat empat faktor yang perlu mendapat perhatian dalam pengembangan kewirausahaan, yaitu :
(1) akses terhadap modal,
(2) peran inovasi,
(3) pelatihankewirausahaan, dan
(4) peran pemerintah dalam menciptakan iklim berusaha yang kondusif bagi lahirnya                   wirausaha yang berdaya saing

Peran swasta untuk menumbuhkan wirausaha baru sangat penting, karena inkubator bisnis yang berhasil umumnya terdiri dari perusahaan swasta yang sukses. Perusahaan swasta yang sukses dapat bertindak sebagai mentor bagi pengusaha baru dalam kemampuan manajerial, keterampilan teknis, memberikan jaminan pasar, dan menjadi avalis bagi wirausaha baru dalam berhubungan dengan perbankan. Dengan demikian, segenap praktik terbaik pengembangan wirausaha memerlukan komitmen untuk melaksanakannya. Karena itu, perlu segera diwujudkan program aksi pada tingkat daerah berupa upaya menumbuhkan seorang wirausaha baru di tiap desa setiap bulannya (Noer Soetrisno, 2003).

2.2 Kerangka Pikir
Menyusun proyeksi jumlah wirausaha di Indonesia memerlukan keberanian yang
luar biasa, karena kompleksnya variabel penentu dan hampir semua aspek yang
berkaitan masih belum menentu (masih cair), seperti : kinerja ekonomi, motivasi dan
keberanian menanggung risiko, politik, sosial, budaya, dan hukum. Variabel yang relatif
dapat diproyeksikan secara akurat adalah jumlah penduduk. Hal ini terutama untuk
jangkauan waktu yang relatif panjang, yaitu sampai tahun 2020. Untuk kepentingan proyeksi ini dilakukan penyederhanaan,  permintaan terhadap produk yang dihasilkan wirausaha, sedang variabel penduduk menjadi input dari sisi pasokan wirausaha. Dengan pertimbangan belum ada teknik proyeksi jumlah wirausaha yang baku, maka proyeksi jumlah wirausaha dilakukan dengan berbagai pendekatan, antara lain :
(1) menggunakan model ekonometrik,
(2) pendekatan elastisitas,
(3) pendekatan input output,
(4) pendekatan ketenagakerjaan, dan
(5) pendekatan benchmarking rasio
pengusaha terhadap jumlah penduduk pada beberapa negara Adanya angggapan yang besar antara hasil pendekatan kelima dengan pendekatan lainnya merupakan indikasi perlunya upaya
Pendekatan jumlah wirausaha dilakukan dengan jumlah unit usaha pada setiap sektor. Kajian ini menggunakan asumsi bahwa setiap unit usaha dimiliki oleh seseorang wirausaha, demikian sebaliknya setiap wirausaha dianggap hanya memiliki satu unit usaha. Model yang disusun dalam kajian ini merupakan dekomposisi dari perekonomian Indonesia menjadi 9 sektor usaha. Hal yang sama juga diberlakukan terhadap variabel unit usaha. Pemilihan variabel bebas untuk setiap persamaan perilaku ditentukan berdasarkan uji signifikansi untuk setiap variabel bebas dengan jumlah unit usaha pada setiap sektor. Dalam model ini digunakan metode penduga Two Stage Least Square (2 SLS), agar hasil pendugaan parameter yang diperoleh menjadi lebih efisien dan tidak bias. Demikian pula untuk kondisi penggunaan data deret waktu (time series), yang dapat menimbulkan gangguan berupa adanya autokorelasi. Untuk mengatasi gangguan tersebut, digunakan metode Cohranne-Orcutt yang dapat mengubah bentuk persamaan menjadi autoregresif. Ada dua blok peubah yang digunakan dengan 17 persamaan stokastik, yaitu blok ekonomi sebanyak 8 persamaan dan blok unit usaha sebanyak 9 persamaan serta 3 persamaan identitas (deterministik).
Persamaan Identitas dimaksud adalah:
1. Y9t = GDPt . (Y1t+ Y2t + Y3t + Y4t + Y5t + Y6t + Y7t + Y8t )
2. Kt = 0,97 Kt-1 + CFt
3. Ut = U1t + U2t + U3t + U4t + U5t + U6t + U7t + U8t + U9t
Keterangan:
1. Y1t adalah nilai tambah bruto pada sektor usaha pertanian,
peternakan, kehutanan, perkebunan, dan perikanan;
2. Y2t adalah nilai tambah bruto pada sektor usaha pertambangan dan
penggalian;
3. Y3t adalah nilai tambah bruto pada sektor usaha industri pengolahan;
4. Y4t adalah nilai tambah bruto pada sektor usaha listrik, gas dan air
bersih;
5. Y5t adalah nilai tambah bruto pada sektor usaha bangunan;
6. Y6t adalah nilai tambah bruto pada sektor usaha perdagangan, hotel
dan restaurant;
7. Y7t adalah nilai tambah bruto pada sektor usaha pengangkutan dan
8. Y8t adalah nilai tambah bruto pada sektor usaha keuangan,
persewaan dan jasa perusahaan;
9. Y9t adalah nilai tambah bruto pada sektor usaha usaha jasa-jasa;
10. GDPt adalahProduk domestik bruto Indonesia;
11. Ext adalah nilai ekspor barang dan jasa;
12. Kt adalah stok kapital;
13. CFt adalah investasi fisik/pembentukan modal tetap bruto;
14. U1t adalah jumlah unit usaha di sektor pertanian, peternakan,
kehutanan dan perikanan;
15. U2t adalah jumlah unit usaha di sektor pertambangan dan penggalian;
16. U3t adalah jumlah unit usaha di sektor industri pengolahan;
17. U4t adalah jumlah unit usaha di sektor listrik, gas dan air bersih;
18. U5t adalah jumlah unit usaha di sektor bangunan;
19. U6t adalah jumlah unit usaha di sektor perdagangan, hotel dan
restoran;
20. U7t adalah jumlah unit usaha di sektor pengangkutan dan
komunikasi;
21. U8t adalah jumlah unit usaha di sektor keuangan, persewaan dan jasa
perusahaan;
22. U9t adalah jumlah unit usaha di sektor jasa-jasa;
23. Ut adalah total unit usaha di Indonesia

III. METODE KAJIAN

3.1 Lokasi dan Objek Kajian
Kegiatan kajian ini dilaksanakan dengan menggunakan metode survai di 15 (lima belas) provinsi, yaitu Sumatera Utara, Riau, Sumatera Selatan, Lampung, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat,, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan, dan Papua. Objek kajian adalah faktor-faktor yang mempengaruhi jumlah wirausaha baru dan proyeksi jumlah wirausaha baru 2004-2009. Untuk memperkuat hasil kajian ini, juga dilakukan inventarisasi berbagai karakteristik wirausaha skala UKM di berbagai sektor usaha.

3.2 Penarikan Sampel
Untuk memperoleh data dan informasi melalui survai, penarikan sampel UKM dilakukan dengan cluster sampling berdasarkan sektor usaha.

3.3 Pengumpulan Data
Penelitian ini menggunakan data primer yang diperoleh langsung dari responden melalui wawancara dengan bantuan kuesioner yang telah disusun. Responden yang ditetapkan dalam penelitian ini adalah pemilik perusahaan. Untuk melengkapi bahan analisis dilakukan wawancara terhadap pembina UKM dan kelompok pakar, serta menggunakan data sekunder yang bersumber dari instansi terkait, terutama BPS.

3.4 Model Analisis
Model analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah :
a. Model ekonometrik digunakan untuk membuat proyeksi wirausaha baru
menurut sektor usaha;
b. Analisis deskriptif kuantitatif digunakan untuk karakteristik wirausaha yang
melakukan kegiatan usaha skala kecil.

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Proyeksi Wirausaha Baru
Hasil proyeksi wirausaha baru skala kecil menurut sektor usaha dengan menggunakan pendekatan ekonometrik berdasarkan unit usaha disajikan pada tabel
1 . Dari tabel 1 tersebut terlihat bahwa proyeksi jumlah unit usaha kecil mengalami pertumbuhan pada seluruh sektor. Rata-rata pertumbuhan jumlah unit usaha pada peroide tahun 2004-2009 adalah sebesar 2,11 persen, dengan rata-rata pertumbuhan tertinggi dicapai sektor 8 sebesar 13,65 persen, kemudian diikuti sektor 4 sebesar 7,72 persen dan sektor 7 sebesar 7,56 persen. Sedangkan sektor dengan rata-rata pertumbuhan terendah adalah sektor 1 sebesar 0,72 persen, kemudian diikuti sektor 2 sebesar 2,80 persen dan sektor 5 sebesar 2,86 persen. pertumbuhan terendah adalah sektor 1 sebesar 0,72 persen, kemudian diikuti sektor 2 sebesar 2,80 persen dan sektor 5 sebesar 2,86 persen.

Sumber : Data BPS (Diolah)        
Keterangan : 1 = Pertanian, peternakan, kehutanan, perkebunan, dan perikanan
2 = Pertambangan dan penggalian
3 = Industri pengolahan
4 = Listrik, gas, dan air bersih
5 = Bangunan
6 = Perdagangan, hotel, dan restoran
7 = Pengangkutan dan komunikasi
8 = Keuangan, persewaan, dan jasa perusahaan
9 = Jasa-jasa
















JURNAL PENGKAJIAN KOPERASI DAN UKM NOMOR 2 TAHUN I – 2006


4.2 Penyesuaian Proyeksi Wirausaha Baru
Proyeksi wirausaha baru dengan menggunakan model ekonometrik, sebagaimana
disajikan di atas, memerlukan penyesuaian agar diperoleh hasil proyeksi yang lebih
akurat. Penyesuaian tersebut dilakukan dengan menggunakan Mean Percentage Error
(MPE), yang secara matematis dirumuskan sebagai berikut :
(Yt . Ý)
MPE = å ------------------ : n
Ýt
Hasil perhitungan MPE menunjukkan bahwa secara umum estimasi yang
dihasilkan dapat digunakan karena nilai MPE yang kecil, kecuali untuk sektor tertentu.
MPE pada usaha kecil untuk sektor 7 dan 9 relatif besar, sehingga hasil proyeksi akan
bias karena akan terjadi perbedaan yang relatif besar antara hasil estimasi dengan
kondisi aktual. MPE yang relatif besar untuk usaha menengah terjadi pada sektor 3
dan 7, pada usaha besar terjadi pada sektor 3, 4, 7, dan 9; sedangkan pada proyeksi
total terjadi pada sektor 3,4,6,7, dan 9. Hal ini menunjukkan bahwa MPE yang relatif
tinggi memberikan indikasi harus dilakukan penyesuaian agar diperoleh hasil proyeksi
yang lebih akurat. Penyesuaian model ekonometrik dalam kajian ini dilakukan dengan
pendekatan interval estimate dan point estimate. Interval estimate digunakan untuk
memperoleh dua jenis estimasi, yaitu estimasi pesimis dan estimasi optimis.
Sedangkan point estimate digunakan untuk memperoleh estimasi moderat.

 KESIMPULAN DAN SARAN
Berdasarkan hasil dan pembahsan yang disajikan pada uraian di muka, maka
dapat disimpulkan sebagai berikut :
1. Model ekonometrik merupakan pendekatan yang representatif dalam
menyusun proyeksi jumlah wirausaha di Indonesia, namun belum mampu
memberikan proyeksi yang akurat untuk sektor listrik, gas, dan air bersih;
sektor pengangkutan dan komunikasi; dan sektor jasa-jasa karena MPEnya
masih relatif besar.
2. Hasil proyeksi jumlah wirausaha baru untuk tahun 2004-2009 menunjukkan
bahwa dalam kurun waktu lima tahun tersebut jumlah wirausaha baru
bertambah sekitar 5.187.527 unit usaha kecil dan 17.226 unit usaha
menengah.
3. Sektor usaha yang paling potensial untuk mengembangakan wirausaha baru
dengan skala kecil adalah usaha perdagangan, hotel dan restoran;
pengangkutan dan komunikasi; dan pertanian, peternakan, kehutanan,
perkebunan, dan perikanan.
4. Sektor usaha yang paling potensial untuk mengembangkan wirausaha baru
dengan skala menengah adalah keuangan, persewaan dan jasa perusahaan;
perdagangan, hotel, dan restoran; dan industri pengolahan.
5. Faktor-faktor yang mempengaruhi berkembangnya wirausaha baru adalah
karakteristik bisnis wirausaha (usia, gender, dan tingkat pendidikan; legalitas
usaha; permodalan; tujuan pemasaran; dan tenaga kerja); serta budaya
dan karakteristik wirausaha baru (motivasi berusaha; hambatan memulai usaha; dukungan yang diterima; dan peran pemerintah).
Berdasarkan hasil proyeksi jumlah wirausaha, hasil survai karakteristik UKM,
studi kepustakaan, dan analisis yang relevan dengan berbagai aspek yang terkait
pengembangan wirausaha baru, terutama yang mempunyai implikasi terhadap
kebijakan pemberdayaan UKM

DAFTAR PUSTAKA
Harvie, Charles and Tran Van Hoa. 2003. New Asian Regionalism : Responses to
Globalisation and Crises. Palgrave Macmillan.
Soetrisno, Noer. 2003. Kewirausahaan dalam Pengembangan UKM di Indonesia.
dalam Ekonomi Kerakyatan dalam Kancah Globalisasi. Deputi bidang
Pengkajian Sumberdaya UKMK Kementerian Negara Koperasi dan UKM.
Jakarta.
Agung Nur fajar. 1996. Model Pengembangan Kewirausahaan di Indonesia. Makalah
pada Seminar Dosen STEKPI. Jakarta.
Gnyawali, Devi R. and Daniel S. Fogel (1994). Environment for Enterpreneurship
Development : Key Dimension and Research Implications. Enterpreneurship :
Theory and Practice.
Kao, John (1989). Enterpreneurship, Creativity and Organization : Text, Cases and
Reading. Englewood Cliffs, Prentice Hall.
Kuratko and Hodgetts. 1995. Enterpreneurship : A Contemporary Approach. The
Dryden Press. New York.

1 comment: